adjQDGiw9zV3ZrtlDmdv0xUy2YCAW5gNJ7prCidQ

Batik Tiga Negeri di Rumah Merah Heritage Lasem

Rumah Merah Heritage Lasem adalah salah satu rumah peninggalan khas tionghoa yang masih memproduksi batik tiga negeri khas Lasem
Rumah Merah Heritage Lasem

Lasem adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah yang sering disebut sebagai "Tiongkok Kecil" karena kentalnya akultutrasi budaya antara Tionghoa dan Jawa. Lasem menjadi salah satu daerah pendaratan pertama orang Tiongkok di Jawa. Sehingga tidak mengherankan jika budaya Tingkok sangat kental di daerah Lasem. Salah satu bukti akulturasi tersebut adalah batik khas Lasem yang sering disebut sebagai Batik Tiga Negeri. 

Di Lasem terdapat beberapa rumah batik dan salah satu yang terkenal adalah Oemah Batik Lasem atau sering juga disebut Oemah Batik Tiga Negeri atau Rumah Merah Heritage Lasem. Oemah Batik Lasem ini adalah sebuah showroom batik, museum batik serta penginapan bergaya Tiongkok. Oemah Batik Lasem berdiri diantara deretan rumah bergaya Tionghoa yang dikenal dengan nama Pecinan Lasem

Tentang Rumah Merah Heritage 

Rumah Merah Heritage Lasem

Rumah Merah Heritage Lasem berlokasi di Jl Karangturi IV No 7 Lasem. Rumah ini dipercaya merupakan salah satu rumah saudagar di Lasem yang kemudian terbengkalai. Rumah ini diperkiraan berdiri sejak tahun 1850an. 

Pemilik awal Rumah Merah diyakini adalah seorang pengusaha rokok dan batik. Hal tersebut karena di rumah ini ditemukan banyak alat linting rokok tradisional serta peralatan untuk membatik. Serta terdapat bangunan tiga tingkat yang digunakan sebagai sarang burung walet.

Hingga akhirnya pada tahun 2012, Rumah Merah dibeli oleh Rudy Hartono salah seorang pengusaha keturunan Tionghoa. Oleh beliau rumah ini kemudian di renovasi dan dirapikan secara perlahan dengan tetap mempertahankan bangunan aslinya. Hingga akhirnya bangunan ini terlihat sangat cantik seperti sekarang. 

Rumah Merah Heritage Lasem mempunyai tiga fungsi utama yaitu sebagai museum dan showroom batik serta penginapan. Area penginapan menggunakan bangunan utama yang ada di Rumah Merah yang bergaya Tionghoa. sedangkan lokasi showroom batik menggunakan gedung bekas sarang burung walet yang telah disulap sedemikian rupa sehingga tampak tertata apik dan indah. 

Keliling Rumah Merah Heritage

Rumah Merah Heritage Lasem

Siang itu kami tiba di Rumah Merah dan suasana disana hanya terlihat beberapa orang pengunjung. Di bagian depan adalah semacam area foodcourt yang terdapat beberapa stand makanan disana. Juga terdapat area resepsionis bagi tamu yang ingin berkunjung ke Rumah Merah Heritage.

Untuk pengunjung yang hanya ingin menuju ke showroom batik maka tidak dikenakan biaya masuk. Namun jika ingin berkeliling Rumah Merah untuk mengetahui sejarahnya juga belajar tentang batik maka dikenakan biaya masuk @20rb.

Hari itu kami memutuskan untuk sekalian keliling mengulik sejarang Rumah Merah dan Batik Lasem. Setelah membayar tiket masuk, kami kemudian diberikan gelang pengunjung untuk dipakai selama berkeliling di Rumah Merah. Untuk keliling Rumah Merah, kami ditemani seorang guide yang akan membantu menjelaskan tentang sejarah dan denah Rumah Merah.

Begitu melangkahkan kaki ke area Rumah Merah, maka di sebelah kiri pintu masuk terdapat sebuah bangunan dimana terlihat ibu-ibu yang tengah menyelesaikan proses membatik. Sepintas batik Lasem terlihat berbeda dengan batik Solo. Motifnya cenderung kecil-kecil yang merupakan perpaduan antara Jawa dan Tionghoa. 

Rumah Merah Heritage Lasem

Masuk ke pintu selanjutnya, kami diperlihatkan sebuah bunker yang dulu digunakan sebagai tempat persembunyian jika sedang ada pengeboman. Bungker tersebut menghubungkan area rumah utama dengan bangunan sarang walet yang kini sudah dialih fungsikan menjadi showroom batik. Tapi untuk keamanan maka pintu yang menuju showroom kini dikunci.

Kami kemudian diarahkan menuju ke rumah utama yang digunakan sebagai penginapan. Di rumah ini  terdapat beberapa kamar dan sebuah area keluarga. Kamar-kamar tersebut digunakan untuk umum sebagai tempat penginapan. Dan area keluarga yang terdapat di tengah digunakan sebagai ruang makan bersama. Di ruangan tersebut suasana khas Tionghoa begitu terasa karena terdapat beberapa patung dewa Tionghoa.

Rumah Merah Heritage Lasem

Sebenarnya saat itu saya ingin menengok kondisi kamar penginapan, namun sayang semua kamar saat itu terkunci. Guide yang menemani kami mengatakan bahwa masing-masing kamar masih mempertahankan bentuk aslinya. Didalamnya juga terdapat beberapa perabot seperti meja rias dan lemari khas Tionghoa. Namun untuk area kamar mandi sudah direnovasi menggunakan shower dan toilet duduk seperti yang sekarang. Dan untuk tempat tidur juga sudah diganti menggunakan kasur busa.

Rumah Merah Heritage Lasem

Berjalan ke area belakang maka kami dibawa ke area pengolahan kain batik. Di area ini batik-batik dilakukan proses pencelupan dan finishing. Terlihat ada beberapa kain batik yang saat itu sedang di warnai, dicuci dan dijemur.

Showroom Batik Lasem

Area terakhir yang kami masuki adalah area showroom batik. Di area ini guide pamit dan meninggalkan kami untuk bisa lebih leluasa melihat berbagai motif batik Lasem. Seperti yang saya sebutkan diawal, area showroom batik menggunakan bangunan bekas sarang burung walet, sehingga atapnya tidak terlalu tinggi. Dan disini kami juga bisa melihat pintu bunker yang terhubung ke rumah utama.

Rumah Merah Heritage Lasem

Ciri khas dari batik Lasem adalah menampilkan warna yang berani yaitu merah yang sering disebut sebagai getih pitik (merah darah ayam). Hal ini berbeda dengan warna batik Solo atau Jogja yang cenderung berwarna coklat. Batik Lasem juga terkenal sebagai batik pesisir tertua di Indonesia sejak abad ke 19.

Industri batik pada masa tersebut banyak dikelola oleh kaum Tionghoa. Sehingga tidak heran jika motif yang banyak digunakan di batik Lasem juga perpaduan dari budaya Tionghoa seperti burung merak, naga, kupu-kupu dan bunga.

Batik Lasem juga dikenal sebagai Batik Tiga Negeri karena merepresentasikan tiga budaya yang ada di Lasem yaitu Tionghoa, Belanda dan Jawa. Warna merah identik dengan kaum Tionghoa, warna biru melambangkan Belanda dan coklat saga khas Jawa. Disebut Batik Tiga Negeri juga karena dibuat di tiga daerah yang berbeda yaitu warna merah di Lasem, biru di Pekalongan dan coklat di Surakarta. 

Di area showroom ini terdapat berbagai macam batik dari yang harga rutasn ribu hingga jutaan. Semua tergantung dari motif, jenis kain yang digunakan serta proses pembuatannya. Untuk batik tulis kuno biasanya harganya mencapai jutaan karena proses pembuatannya yang memang lama antara tiga bulan sampai satu tahun. Selain dalam bentuk kain juga terdapat pakaian jadi, baik baju pria ataupuun wanita. Juga ada beberapa pernak pernik seperti tas dan lain-lain. Saat itu kami memutuskan untuk membeli satu kain batik Lasem sebagai kenang-kenangan.

Penutup

Selesai ekplore Rumah Merah, kami memutuskan untuk menghampiri tiga orang ibu-ibu yang sedang membatik di sebuah bangunan dekat dengan area parkir. Kami pertama melihatnya saat parkir kendaraan, dan memutuskan untuk menghambiri jika kami sudah selesai mengunjungi Rumah Merah. 

Rumah Merah Heritage Lasem

Disana kami bertanya tentang industri batik Lasem saat ini. Menurut beliau di Lasem ada beberapa rumah batik salah satunya adalah Oemah Batik Lasem ini. Beliau juga bercerita jika sekarang banyak anak muda yang enggan meneruskan keahlian membatik karena memilih bekerja di pabrik. Entah bagaimana kelanjutan batik Lasem kedepennya nanti.

Di tengah obrolan tersebut, beliau menawari saya jika ingin berfoto bergaya sambil membatik. Dengan antusias saya mengiyakan tawaran tersebut, kapan lagi bisa berfoto cantik membatik demi kepentingan estetik😅. Meskipun di Solo juga dikenal sebagai kota batik namun saya sendiri belum pernah melihat proses membatik dari dekat. 

Rumah Heritage Lasem juga sering digunakan sebagai salah satu tempat kunjungan baik komunitas ataupun sekolah. Seperti saat kemarin waktu kami disana, terlihat satu rombongan bus dari Jakarta baru saja datang dan mereka akan menikmati makan malam di Rumah Merah. Saat baru tiba, mereka disambut dengan tarian barongsai yang terlihat meriah dan menarik.

Rumah Merah juga menyediakan paket tour bagi yang ingin menginap dan berkeliling Lasem. Mereka akan mengantarkan tamu berkeliling di beberapa destinasi wisata di Lasem serta mengakomodasi berbagai keperluannya. Untuk informasi lebih lengkapnya teman-teman bisa cek di IG Rumah Merah Heritage Lasem.

Terima kasih sudah membaca dan sampai bertemu di cerita selanjutnya 💖💖

25 komentar
  • Antung apriana
    Antung apriana
    Rudi hartono itu pengusaha Djarum itu bukan sih? jadi penasaran diriku. Kalau untuk batiknya sendiri dijual nggak mbak di situ? Kayaknya harganya pasti mahal ya dan motifnya juga unik nih perpaduan jawa, tionghoa dan belanda
    • erykaditya
      erykaditya
      sama nama tapi beda orang mbaa hehehe....
      ada mbaa..kan ada showroom nya itu mbaaa...aku sendiri juga beli kok buat oleh2...ada banyak macam dan banyak kisaran harga dari yang ratusan ribu sampe jutaan ada mbaaa ;)
    Balas
  • Srie Ummu Kayshwa
    Srie Ummu Kayshwa
    Saya kepingin sekali bisa eksplore ke sini, menyusuri Kora Rembang dengan segala pesonanya. Belajar sejarah dari lokasinya langsung. Jujur tertarik banget dengan batiknya, motifnya unik dan cantik karena ada nilai budaya dalam karyanya. Semoga bisa segera kie sana, nggak sabar banget pingin segra mbolang.
    Balas
  • Katerina
    Katerina
    Mbak, Rumah Merah ini menarik banget ya. Apalagi pas lihat batik-batik Lasem yang Mbak ceritakan dan tampilkan di foto. Motif dan warnanya cantik sekali. Saya suka sama batik yang punya cerita dan karakter kayak gini. Batik Tiga Negeri-nya juga bikin kagum, apalagi ternyata proses dan sejarah di balik pembuatannya panjang. Jadi bukan sekadar kain cantik ya, tapi ada cerita budaya yang ikut melekat di dalamnya.

    Saya jadi penasaran sama bunkernya, Mbak. Itu kalau pengunjung datang, boleh masuk sampai ke dalam untuk melihat-lihat nggak? Atau cuma bisa melihat dari bagian luarnya saja?

    Terus kalau untuk menginap di Rumah Merah ini, biaya per malamnya berapa ya, Mbak? Fasilitas yang didapat apa saja? Soal pintu-pintu kamar penginapannya tertutup dan terkunci. Itu karena waktu Mbak datang kebetulan sedang tidak ada tamu yang menginap, atau memang kamar-kamarnya tidak bisa dilihat dari dalam kalau kita bukan tamu?
    • erykaditya
      erykaditya
      boleh masuk mbaa kan itu ada fot bagian dalam nya mbaa..aku ambil pas masuk kedalam tapi memang cuma kecil sie bunkernya jadi semacam tempat sembunyi saja...
      Kalo tidak salah biaya menginapnya 350rban mbaa sudah termasuk sarapan yaaa..sptnya memang dikunci mba kamarnya kecuali kalo kita mau lihat2 dulu mungkin baru dibukakan yaaa...
    Balas
  • lendyagasshi
    lendyagasshi
    ((mau nangiiss pas komen))
    Karena beberapa kali ke Rembang dan aku jatuh cinta dengan kota ini. Akutu sampai bolak-balik ke rumah terakhir RA Kartini, saking jatuh cintanya.. dan bahkan bersedia menjadi guide saat anak-anak aku ajak ke sana.
    Cumaaa... Lasem aku terlewaatt.. huhuhu.. padahal waktu ke pemakaman RA Kartini, tinggal menggok sedikiittt yaah..

    Dan jatuh cinta banget sama Rumah Merah Heritage yang sangat vintagee..
    So cool.. aura wanita Indonesya yang anggunly ketika menggunakan batik.. dan batik ini salah satu Batik merupakan warisan budaya Indonesia yang telah diakui oleh UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia yang harus selalu kita jaga dan lestarikan sebagai anak bangsa.
    • erykaditya
      erykaditya
      Waaa ternyata sudah bolak balik ke makan RA KArtini ya teh..kemarin malah aku kelewat karena saat itu sedang perjalana ke rembang dan sudah sore jadinya gak mampir...hhmmm kalo dari makam ya jauh gak jauh ya mbaa hehe
    Balas
  • duniaeni.com
    duniaeni.com
    Aku suka banget menyusuri tempat sejarah seperti rumah merah heritage di lasem ini, khas banget peninggalan thionghoa. Sayang, aku belum pernah ke sini , pas aku scroll foto lengkapnya jadi pengen banget ke sana hehehehe.Buat pepotoan juga sangat estetik ya
    Balas
  • Bunsal
    Bunsal
    Ya ampun, mau banget eksplor Rumah Merah Heritage di Lasem. Saya pastu akan segera kehabisan memori, saking semua sudut rumah ingin dipotret. Harus dimasukkan ke agenda liburan ini. Mana tau pas mampu mudik ke Semarang, bisa sekalian main jauh ke Lasem dan Rumah Merah Heritage ini. Aamiin yg dalem 🤲🏻
    • erykaditya
      erykaditya
      hehehe bener mbaa sampe ini bingung mana yang mau di posting saking banyaknya karena setiap sudutnya cocok buat diabadikan
    Balas
  • andyhardiyanti
    andyhardiyanti
    Lihat foto pembuka di atas sempat mengira ini tuh lokasinya di luar negeri, di Tiongkok sana. Eh rupanya di Indonesia. Cakep juga ya ide destinasinya, jadi bisa berwisata melihat koleksi batik di satu tempat. Bagus kali ya kalau di Lombok dibuat rumah tenun juga, jadi pengunjung bisa melihat koleksi tenun Sasak, proses, dll di satu tempat
    Balas
  • Dyah Kusuma
    Dyah Kusuma
    Rumah heritage Lasem ini menawarkan paket lengkap ya, tidak hanya sebagai jujugan untuk mempelajari batik tetapi juga bisa menginap di sana s ekaligus keliling Lasem, jadi tertarik juga untuk berkunjung kesana
    Balas
  • Jalan-Jalan KeNai
    Jalan-Jalan KeNai
    Lasem memang selalu punya daya tarik tersendiri dengan akulturasi budayanya. Senang sekali melihat bangunan bersejarah seperti Rumah Merah Heritage ini dirawat dengan baik dan tetap memelihara kelestarian Batik Tiga Negeri. Tiket 20 ribu plus pencerahan dari guide dan bisa lihat langsung proses pembuatan batiknya terbilang sangat worth it ya.
    Balas
  • Dede Diaz Abdurahman
    Dede Diaz Abdurahman
    Rumah Merah Heritage Lasem memang punya daya tarik yang beda. Perpaduan sejarah, arsitektur, dan Batik Tiga Negeri bikin setiap sudutnya terasa hidup. Jadi makin pengin suatu hari bisa mampir langsung ke Lasem dan menikmati ceritanya tanpa terburu-buru.
    Balas
  • Andiyani Achmad
    Andiyani Achmad
    Lasem memang selalu berhasil bikin penasaran. Setelah baca cerita ini, rasanya seperti diajak jalan pelan menyusuri sejarah yang masih hidup sampai sekarang. Aku suka bagaimana batik, bangunan tua, dan kisah di baliknya bisa diceritakan dengan begitu hangat. Jadi makin masuk wishlist destinasi yang pengin didatangi, bukan cuma buat foto-foto, tapi juga buat belajar menghargai cerita di balik setiap sudutnya. Terima kasih sudah berbagi pengalaman yang sekaya ini.
    Balas
  • Niwanda
    Niwanda
    Kalau lagi mudik ke tempat suami di Pati, kadang kami pergi ke pantai di Lasem. Kepingin juga sebetulnya menjelajahi wisata sejarah di kota ini, setelah selama ini cuma menyimak cerita batik tiga negeri di museum-museum lain atau pameran. Barangkali bisa dapat ceritanya yang lebih otentik, kan. Aku catat dulu deh, semoga nantinya kesampaian.
    • erykaditya
      erykaditya
      Pantai karang jahe kah mba?? padahal deket loo mba kalo dari pantai pantai lewat lasem ini..sayang yaa terlewat kan semoga nanti suatu saat bisa mampir mba :)
    Balas
  • Raja Lubis
    Raja Lubis
    Kalau dipikir-pikir, sejarah dan peninggalan masa lalu sudah membuktikan kalau Indonesia itu negeri yang menjunjung tinggi toleransi. Dulu aku pernah dapat oleh-oleh batik Lasem ini, menarik motif-nya. Dan ternyata memang menggambarkan tiga budaya yang hidup di sana.
    Balas
  • AlineaLala
    AlineaLala
    Salah satu tempat yang pengen banget saya explore nih Lasem. Sayangnya kalau pengguna transportasi umum masih agak kesulitan akses kesananya.

    Sangat menarik banget bisa melihat secara langsung akulturasi budaya. Rumah merah yang beneran serba merah gonjreng ini punya banyak cerita sejarah yang harus digali.

    Saya berdoa semoga batik Lasem ini bisa terus survive dan ada penerus yang mau berkarya serta mempertahankan dan membuat batiknya semakin terkenal dalam skala internasional.
    Balas
  • Aprillia Ekasari
    Aprillia Ekasari
    Lasem, langsung keinget batik hehe :D
    Owh jadi ciri khasnya menonjolkan "getih pithik" yaaa :D
    Woooww keknya ini rumah orang kaya pada masanya ya mbak. Mana punya bunker lagi. Berarti emang ada sejak zaman perang2an masih bergejolak itu.
    Bangunannya juga masih sangat kokoh. Kebayang orang zaman dulu kalau biki rumah seniat itu emang.
    Sayang banget ya sekarang anak muda sana jarang yang mau belajar membatik. Andai aku dekat aku mau aja sih belajar hehe.
    Ternyata juga berfungsi sebagai penginapan yaa? Penasaran ratenya hehe. Tapi betah nggak sih bobo di sana? Kalau ramean, seru2an keknya mau aku haha :D
    • erykaditya
      erykaditya
      Rate nya antara 300-400rb an mbaaa...
      Nahh ini kalo rame2an mungkin asik ya mba jadi gak berasa sepi soalnya kalo aku takut sie haha secara rumah lama yaaa takut klo ketemu yang aneh2 hihihi
    Balas
  • Aisyah Dian
    Aisyah Dian
    Baca cerita perjalanan wisata di Lasem ini makin membuatku pengen kesana kak, awalnya kupikir warna merah karena ada warna warga tionghoa sekalinya itu lambang getih pitik ya
    Balas
  • Farida Pane
    Farida Pane
    aku suka banget sama batik lasem karena gayanya vintage abis. khas karena gabungan dari tiga budaya. tapi aku belum pernah ke rumah merah ini
    Balas
  • Okti Li
    Okti Li
    Ya ampun, saya ke rumah merah ini sekitar tahun 2012 akhir lho, waktu hamil anak semata wayang Fahmi
    Saat itu bungker juga belum dicat merah. Masih cokelat warna kayu alami
    Saat itu karena saya sedang hamil, jadi panitia rombongan (dari Marthaa Tilaar) gak mau ambil risiko, saya disuruh duduk manis aja. Haha...
    Saya juga beli oleh² kain batik beberapa warna
    Di Lasem ini saya juga ikut belajar batik
    Aih, terimakasih sudah memberikan informasi terkini rumah merah yang penuh sejarah ini ya
    • erykaditya
      erykaditya
      Wahhh pasti dulu lebih otentik banget ya mba...tapi alhamdulillah masih dilestarikan sampai sekarang bahkan sudah ada perbaikan di beberapa lokasinya jadi bisa melestarikan budaya di LAsem
    Balas