adjQDGiw9zV3ZrtlDmdv0xUy2YCAW5gNJ7prCidQ

Wisata Religi di Kawasan Pantura

Selain sebagai pusat perdagangan, kawasan Pantura juga dikenal sebagai pusat penyebaran agama Islam oleh Walisongo
Wisata Religi Pantura

Libur panjang di akhir bulan Mei, kami mengisinya dengan melakukan perjalanan menuju ke kawasan Pantura (Pantai Utara Jawa). Tujuan akhir perjalanan kali itu adalah menuju daerah Rembang dan Jepara. Kami melakukan perjalanan tersebut selama empat hari tiga malam. Dua malam kami menginap di Rembang dan sehari kami menginap di Jepara. 

Di perjalanan ini kami mengambil rute yang memutar. Jalur yang kami lewati adalah Solo-Blora-Rembang-Pati-Kudus-Jepara-Demak-Semarang-Solo. Sebuah rute yang belum pernah saya jelajahi sebelumnya. 

Wisata Religi Pantura

Keunikan Pantura

Ada beberapa hal yang cukup menantang saat kami melalui kawasan pantura. Salah satunya adalah  kita akan bertemu dengan banyak truk besar. Karena merupakan kawasan pelabuhan antar pulau, maka tak heran jika sepanjang jalan kita akan selalu berpapasan dengan truk kontainer atau truk kapasitas besar lainnya. 

Saat itulah kemampuan menyetir dan kesabaran cukup diuji. Kita harus benar-benar konsentrasi dan penuh perhitungan saat kita hendak mendahului kendaraan lain di depan. Apalagi kadang jalan yang dilalui tiba-tiba menyempit atau bahkan kadang ada yang bergelombang. Untungnya kami bisa melalui perjalanan tersebut dengan lancar tanpa hambatan.

Singgah ke Masjid Agung

Kawasan pantura ini juga dikenal sebagai pusat penyebaran Islam di Jawa oleh Walisongo. Kawasan ini terbentang dari Jawa Timur, Jawa Tengah hingga Jawa barat. Karena menjadi pusat kegiatan Walisongo, maka kami memutuskan untuk singgah ke beberapa Masjid Agung Jawa Kuno yang kami lewati. 

Dari beberapa masjid yang kami singgahi, saya melihat bahwa masjid di kawasan ini identik dengan minaret yang tampak gagah menjulang tinggi. Bangunan masjid juga terlihat sangat luas dan bangunan yang menampilkan arsitektur Jawa.

Ada beberapa ciri khas dari masjid jawa kuno yang ada di Jawa. Beberapa diantaranya adalah :

  • Berlokasi di sebelah barat alun-alun yang merupakan tempat berkumpulnya masyarakat pada masa tersebut
  • Mempunyai atap yang berbentuk Cukup Berundak khas seperti rumah jawa kuno
  • Terdapat kompleks area pemakanan di belakang/samping masjid

Beberapa masjid yang sempat kami singgahi saat itu diantaranya adalah :

1. Masjid Agung Blora

Masjid Agung Blora

Kami singgah ini di Masjid Agung Blora saat maghrib. Masjid Agung Baitunnur Blora adalah masjid tertua di Blora yang didirikan pertama kali oleh RT Jayeng Tirtonoto pada tahun 1774. Masjid ini juga berada di samping alun-alun dan juga kompleks rumah Bupati.

Didalam masjid ini juga terlihat ada beberapa ruang. Ruang paling dalam sepertinya adalah bangunan asli karena masih berciri khas bangunan lama. Kemudian didepannya terdapat area untuk sholat. Area ini tampak seperti bangunan yang telah di renovasi. Disini terlihat beberapa tiang penyangga yang sangat besar. Juga terdapat sebuah mimbar yang penuh dengan ukuran kayu dan kaligrafi. 

Meskipun dari luar tampak sederhana, namun area sholat utama terlihat begitu mewah. Apalagi banyak kayu ukir yang mewarnai sekitar dinding dalam masjid. Masjid Agung Baitunnur Blora telah mengalami beberapa kali pemugaran, dimana renovasi terakhir dilakukan pada tahun 1999.

2. Masjid Agung Rembang

Masjid Agung Rembang

Masjid Agung Rembang kebetulan lokasinya tepat berada di depan hotel kami menginap yaitu Aston Rembang. Kami saat itu tidak benar-benar singgah ke dalam masjid agung ini, namun hanya lewat saat kami tengah berjalan-jalan di alun-alun yang tepat berada si sebelah masjid.

Masjid Agung Rembang dibangun pada tahun 1814 oleh Adipati Condrodiningrat dan telah mengalami enam kali pemugaran. Meski telah dilakukan perbaikan namun tetap memperhatankan bangunan aslinya. Dibelakang masjid terdapat kompleks pemakaman Adipati Rembang. Disana terdapat makan Adipati Condrodiningrat dan juga Adipati Sedo Laut, butapi Rembang pertama, yang wafat tahun 1831.

3. Masjid Agung Pati

Masjid Agung Pati

Masjid Agung Baitunnur Pati dibangun oleh Raden Adipati Aryo Condro Adinegoro (Bupati Pati) pada tahun 1845. Dulu masjid ini juga memiliki atap berundak seperti masjid kuno lainnya, namun sekarang telah di renovasi sehingga berubah menjadi atap kubah.

Bangunan masjid agung ini tampak lebih modern dengan marmer putih pada lantai dan dinding berpadu dengan ornamen kayu. Salah satu yang menarik dari bagian masjid ini adalah area mimbar yang tampak unik dan kuno. Area mimbar ini diperkirakan berusia lebih dari 160 tahun yang merupakan pemberian Raden Adipati Aryo Condro Adinegoro, 9 tahun setelah proses pembangunan.

4. Masjid Menara Kudus

Masjid Menara Kudus

Masjid Menara Kudus atau Masjid Al-Aqsha Manarat Qudus dibangun oleh Sunan Kudus (Ja'far Shadiq) pada tahun 1549. Masjid ini terletak di Jalan Menara, Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus. Masjid Menara Kudus dalam dakwahnya dikenal dengan mengedepankan akulturasi antara Islam dan budaya Hindu-Budha.

Akulturasi budaya tersebut tampak pada bangunan menara yang terbuat dari batu bata merah mirip candi. Menara ini mempunyai tinggi 18m dan bagian dasarnya mempunyai luas 10x10m. Dibagian samping masjid ini juga terdapat kompleks makam Sunan Kudus beserta anggota keluarganya. Kompleks pemakaman ini cukup luas dan selalu ramai dikunjungi para peziarah.

5. Masjid Agung Demak

Masjid Agung Demak

Masjid Agung Demak diperkirakan didirikan pada abad ke 15 dan merupakan masjid tertua di Pulau Jawa. Masjid ini didirikan oleh Raden Patah dengan bantuan empat Wali Songo yaitu Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Gunung Jati dan Sunan Kalijaga. 

Seperti bangunan masjid kuno Jawa, di belakang Masjid Agung Demak juga terdapat kompleks pemakaman Kesultanan Demak. Selain itu juga terdapat Museum Masjid Agung Demak yang menyimpan banyak benda-benda pada masa awal pembangunan masjid. Juga terdapat beberapa Al Qur'an dan kitab tafsir kuno dengan tulisan tangan. 

Kompleks Masjid Agung Demak menjadi salah satu destinasi wisata religi di Jawa yang selalu sarat peziarah. Seperti saat kami singgah disana tampak beberapa rombongan peziarah baik dari dalam kota maupun luar kota.

Wisata Religi

Selain berwisata alam, kawasan Pantura adalah lokasi yang cocok untuk umat muslim melakukan wisata religi. Disini kita bisa melihat banyak sekali pelajaran sejarah yang bisa kita ambil dari  perkembangan peradaban dan penyebaran Islam di Pulau Jawa.

Dengan wisata religi tentu harapan kita adalah bisa menambah kadar keimanan. Jangan disalah gunakan untuk melakukan hal-hal syirik yang bertentangan dengan nilai agama. Karena tak jarang kita malah menemukan beberapa pihak yang menggunakan kesempatan berziarah namun niatnya sudah melenceng dari yang seharusnya.

Terima kasih sudah membaca dan sampai bertemu di cerita selanjutnya 💖💖

Posting Komentar