Melanjutkan perjalanan kami dari Solo ke Wonogiri dengan kereta Batara Kresna, maka tulisan ini akan menceritakan kegiatan kami di Wonogiri hingga kembali ke Solo. Kabupaten Wonogiri sebetulnya mempunyai banyak tempat wisata namun karena wilayahnya yang luas sehingga jarak antar spot wosata lumayan jauh dari pusat kota. Karena kami hanya liburan singkat sehingga kami memilih wisata yang dekat dengan stasiun Wonogiri.
Transportasi dari Stasiun
Siang itu kami tiba di Wonogiri sekitar pukul 11.00 WIB dan berencana sebelum pukul 16.00 WIB kami kembali ke Solo dengan naik bus Trans Jateng. Dengan demikian kami mempunyai waktu sekitar 4-5 jam di Wonogiri.
Begitu keluar dari stasiun Wonogiri sebenarnya kita akan menemukan beberapa angkutan yang memang sudah menunggu para penumpang kereta. Angkutan tersebut akan mengantarkan para pengunjung menuju beberapa lokasi di Wonogiri. Para penumpang angkutan akan dikenakan tarif @20rb untuk diantarkan ke 2-3 tempat pemberhentian. Angkutan tersebut akan setia menunggu kita saat tiba di satu lokasi untuk kemudian mengantarakan kita ke lokasi selanjutnya.
Namun sayang, saat kami keluar dari stasiun terlihat suasana diluar stasiun yang sudah sepi. Kami memang agak lama berada di dalam stasiun karena banyak mengambil foto di sekitar area dalam stasiun. Karena perut sudah keroncongan, akhirnya kami memutuskan untuk naik ojol menuju tujuan pertama kami yaitu rumah makan.
Makan Siang di Sari Raras
Awalnya kami ingin makan siang di sebuah kafe yang tempatnya tampak instagrammable, namun setelah bertanya-tanya kepada driver ojol, beliau menyarankan untuk ke Sari Raras yang lokasinya berada tepat di sebelah kafe yang kami maksud di awal. Beliau mengatakan bahwa makanan di Sari Raras lebih enak dengan cirikhas Wonogiri. Jarak dari stasiun menuju Sari Raras sekitar 8 km atau 15 menit perjalanan.
Begitu sampai di restoran terlihat rombongan yang baru saja selesai untuk makan siang, sehingga saat kami datang suasana sudah agak sepi. Restoran ini terdiri dari dua bagian yaitu area bawah dan area atas. Untuk area bawah sebagian besar digunakan untuk lesehan dan area atas adalah untuk meja kursi makan. Terlihat beberapa pelayan yang selalu siap sedia untuk melayani pesananan para pengunjung, dan setelah saya amati ternyata semua pelayannya adalah pria.
Kami memilih duduk di area lesehan dan memesan ikan bakar, tempe mendoan, sayur asem serta es teh sebagai menu kami siang itu. Saat itu pelayan merekomendasikan ikan bakar namun terdapat juga beberapa menu lainnya seperti pepes nila, ayam goreng, wader dll. Tersedia juga aneka sayuran dan camilan lainnya. Selain itu, Sari Raras juga menyediakan menu jadul khas Wonogiri seperti nasi tiwul, nasi bancakan dan nasi berkat. Awalnya saya berencana memesan nasi berkat namun setelah tiba di lokasi hasrat makan siang berubah menjadi ikan bakar😊.
Kami kira waktu penyajian masih agak lama sehingga kami bersiap untuk bersantai terlebih dahulu, namun tiba-tiba seoranag pelayan sudah datang sambil membawa pesanan kami. Kami berdua takjub dengan pelayanan yang super ekpress ini. Semua pesanan kami juga disajikan dalam kondisi hangat.
Tanpa banyak bicara, kami berdua langsung menikmati makan siang karena memang perut yang sudah lapar. Ikan bakar terasa nikmat dengan bumbu yang merasuk sampai kedalam. Sayur asem pesanan kami juga terasa menyegarkan dengan sensasi pedas segar manis yang pas.
Untuk semua pesanan tersebut kami hanya perlu mengeluarkan uang sekitar 85rb saja karena memang harga makanan yang sangat bersahabat. Setiap menu yang ada disana berkisar harga antara 5rb hingga 27rb saja.
Berjalan Kaki ke Waduk Gajah Mungkur
Setelah puas makan siang dan beristirahat sejenak, kami melanjutkan rencana perjalanan menuju Waduk Gajah Mungkur. Saat itu kami sempat bertanya ke pelayan apakah ada angkutan menuju waduk, namun ternyata dia berkata bahwa tidak ada transum yang lewat. Dan dia juga berkata bahwa jaraknya sangat dekat dan bisa jalan kaki. Setelah melihat peta ternyata jarak antara Sari Raras dan waduk Gajah Mungkur hanya sekitar 500m saja.
Kami berdua memutuskan untuk berjalan kaki, karena setelah kami tunggu-tunggu sepertinya memang tidak ada angkutan ataupun bus yang lewat. Sempat was-was karena melewati jalan raya dan tidak ada trotoar untuk pejalan kaki. Namun setelah jalan kaki beberapa menit akhirnya kami sampai di waduk Gajah Mungkur dengan aman. Untungnya saya juga membawa payung sehingga panas terik di tengah hari bisa sedikit terhalang.
Eksplore Waduk Gajah Mungkur
Waduk Gajah Mungkur (WGM) adalah sebuah waduk buatan yang berfungsi PLTA, pengendali banjir, irigasi dan juga dimanfaatkan sebagai objek wisata. Waduk ini dibangun dengan cara membendung sungai terpanjang di Pulau Jawa yaitu Sungai Bengawan Solo.
WGM mulai dibangun pada tahun 1976. Pembangunan waduk ini dilakukan dengan menenggelamkan sekitar 45 desa di 6 kecamatan di Wonogiri. Sekitar 41rb jiwa yang tinggal di desa tersebut melakukan transmigrasi ke Pulau Sumatera. Dan pada tahun 1981 Waduk Gajak Mungkur resmi beropeasi.
Untuk masuk ke area wisata WGM dikenakan tarif @15rb saat weekday. Begitu melewati loket masuk terlihat area wisata sekitar waduk yang cukup luas. Terdapat beberapa warung yang menjual berbagai makan kuliner khas Wonogiri, diantaranya adalah wader goreng, udang goreng, tempe benguk dan beberapa camilan lainnya. Ada juga beberapa penjual yang menyediakan souvenir seperti baju dan celana dengan ornamen khas Wonogiri.
- Naik Kapal Menuju Tambak
Saat berkeliling di kawasan waduk, mata kami tertuju pada kapal wisata Waduk Gajah Mungkur. Disini terdapat dua buah jenis kapal yaitu kapal speedboat dan kapal antrian. Tarif menggunakan kapal speedboat adalah 100rb-150rb perkapal. Sedangkan jika naik kapal biasa, tarifnya hanya 10rb per orang dengan rute menuju tambak yang ada di tengah waduk.
Kami berdua memilih naik kapal antrian karena lebih murah dan lebih santai. Saat itu kami harus menunggu beberapa saat hingga kuota kapal terisi penuh, jika tidak salah sekitar 20 orang. Saat naik, kami juga disarankan menggunakan pelampung sebagai pengaman yang tersedia di masing-masing kapal.
Kapal berkeliling waduk sekitar 30 menit menuju ke area tambak. Saat itu kapal berlayar lumayan tenang karena memang tidak ada angin besar yang menyebabkan ombak. Di area tambak kami melihat beberapa burunh bangau yang tengah menanti mangsanya di antara deretan tambak.
- Jembatan Kaca WGM
Selesai mencoba wahana kapal, kami beralih untuk naik ke jembatan kaca yang menjadi wahana baru di WGM. Jembatan kaca ini baru diresmikan pada bulan Maret 2025, sehingga masih terhitung baru. Untuk masuk melintas ke jembatan kaca, maka pengunjung dikenakan tarif masuk sebesar 10rb.
Awalnya saya kira jembatan kaca ini seluruhnya terbuat dari kaca sejak lintasan bawah hingga keatas, namun ternyata yang terbuat dari kaca hanya pada lintasan tertingginya. Lintasan tertinggi jembatan kaca merupakan lintasan yang menjorok ke arah perairan. Disini kita bisa melihat hamparan WGM lebih lebar dan jaga bisa melihat air waduk yang berada di bawah jembatan.
Perjalanan Pulang dengan Bus Trans Jateng
Puas berkeliling di WGM kami memutuskan untuk pulang, apalagi jam sudah menunjukkan sekitar pukul 15.00 WIB. Saat berjalan menuju ke pimtu keluar, beruntung kami melihat sebuah angkot yang sepertinya tengah mengunggu penumpangnya.
"Iya naik saja, tapi nunggu penumpang saya dulu yaaa, sebentar lagi juga mau jalan balik"
"Masih muat kan pak?"
"Iyaa muat kok"
Akhirnya kami mendapatkan tranportasi untuk sampai ke halte bus Trans Jateng yang ada di pusat kota Wonogiri dengan tarif @10rb.
Sampai di halte, terlihat dua buah bus Trans Jateng yang menunggu untuk diberangkatkan. Kami berdua bisa naik bus yang pertama dan masih mendapatkan tempat duduk. Sore itu bus Trans Jatengg lumayan sarat penumpang apalagi sore itu juga jam pulang kerja.
Tarif bus Trans Jateng jarak jauh dekat adalah flat di 5rb. Perjalanan sore itu terasa lebih lama dan panjang karena rute bus yang memutar dan berhenti di setiap halte. Perjalanan Wonogiri-Solo dengan menggunakan bus memakan waktu sekitar 90 menit. Kami sampai di Terminal Tirtonadi Solo sekitar pukul 17.00 WIB.
Itulah secuil pengalaman singkat kami selama di Wonogiri. Teman-teman yang tertarik buat ekplore Wonogiri bisa mengagendakan juga dengan naik Kereta Batara Kresna yang menjadi ikon kota Solo.
Terima kasih sudah membaca dan sampai bertemu di cerita selanjutnya 💖💖





