adjQDGiw9zV3ZrtlDmdv0xUy2YCAW5gNJ7prCidQ

Candi Sukuh Sebagai Simbol "Kesuburan"

Candi Sukuh adalah salah satu peninggalan terakhir kerajaan Majapahit. Candi ini juga dikenal sebagai Candi Kesuburan
Candi Sukuh

Peninggalan Candi di Indonesia banyak tersebar di wilayah Indonesia khususnya di Pulau Jawa. Hal tersebut karena Pulau Jawa adalah pusat pemerintahan dari kerajaan Hindu Budha kala itu. Dan Candi adalah tempat ibadah umat Hindu Budha pada masa tersebut. 

Di Jawa Tengah sendiri ada begitu banyak candi, di antaranya adalah Candi Cetho, Candi Gedong Songo, Candi Mendut, Candi Arjuna hingga Candi Borobudur yang terkenal. Dan kali ini saya ingin berbagi pengalaman mengunjungi Candi Sukuh yang terletak di Kabupaten Karanganyar.

Sejarah Candi Sukuh

Candi Sukuh terletak di lereng barat Gunung Lawu, tepatnya di Desa Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Lokasi Candi Sukuh berada pada ketinggian sekitar 910 mdpl. Karena terletak di dataran tinggi, menjadikan Candi Sukuh sebagai salah satu candi tertinggi di Indonesia.

Candi Sukuh adalah salah satu candi terakhir dari kerajaan Majapahit, sebelum akhirnya runtuh pada tahun 1478. Candi Sukuh ditemukan oleh seorang Residen Surakarta yang bernama Jeremiah Martin Johnson pada tahun 1815 saat masa pemerintahan Jendral Raffles.

Candi Sukuh dibangun oleh keturunan keluarga aristokratis tua Kediri, yaitu Bhre Daha pada tahun 1437. Pembangunan candi ini menentang kebijakan penguasa kerajaan Majapahit saat itu, Ratu Suhita (1429-1446).

Pembangunan Candi Sukuh tidak megah dan monumental karena prosesnya yang tergesa-gesa. Penyebab utamanya adalah kebutuhan mendesak candi untuk tempat pemujaan dan adanya situasi politik, ekonomi serta perdagangan menjelang keruntuhan Majapahit.

Candi Sukuh ditahbiskan sebagai kuil Tantrik Siwaisme pada tahun 1440 Masehi, menjadi tanda puncak perkembangan kultus Bhima di Jawa dan filsafat hidup yang mendasarinya

Struktur Candi Sukuh

Bangunan Candi Sukuh mempunyai kesan yang sederhana dibandingkan bangunan candi lainnya di Jawa Tengah. Karena kesan yang sederhana ini menarik perhatian arkeolog termasyhur Belanda, W.F. Stutterheim, pada tahun 1930. Ia berkesimpulan bahwa kemungkinan pemahat candi Sukuh bukan seorang tukang batu melainkan tukang kayu dari desa dan bukan dari kalangan keraton.

Kompleks Candi Sukuh mempunyai luas sekitar 5.500m² dan menghadap ke barat dengan konsep punden berundak atau teras bertingkat. Candi Sukuh mempunyai tiga teras dan merupakan satu-satunya di Jawa. Ketiga teras tersebut melambangkan tingkatan menuju kesempurnaan yang diwujudkan melalui upacara keagamaan.

Candi Sukuh
Gapura Teras Pertama dan Kedua

Teras Pertama

Pada teras pertama adalah gapura utama yang berbentuk trapesium. Didalam gapura tersebut terdapat pahatan yang ikonik di lantainya.

Pahatan tersebut melambangkan kesuburan, yaitu bersatunya lingga (kelamin perempuan) dan yoni (kelamin laki-laki). Pahatan tersebut memiliki fungsi sebagai suwuk atau mantra/obat untuk menyembuhkan atau menghilangkan segala kotoran yang melekat di hati.

Pada masanya gapura ini sebagai pintu masuk utama sehingga bagi umat yang ingin beribadah harus melangkahi relief pahatan tersebut. Kemungkinan, bangunan Candi Sukuh pada zamannya digunakan untuk menyirnakan segala keburukan hati dan pikiran di tubuh begitu seseorang memasuki lingkungan candi.

Saat ini gapura tersebut ditutup pagar pada bagian dalam sisi reliefnya. Para pengunjung yang ingin masuk ke area candi diarahkan untuk melewati jalan memutar disampingnya.

Teras Kedua

Gapura pada teras kedua ini sudah tidak utuh lagi. Gapura sudah tidak beratap dan pada teras ini tidak terdapat banyak patung-patung. Kita bisa melihat dikanan dan dikiri gapura, terdapat 2 buah patung penjaga pintu (Dwarapala).

Teras Ketiga

Candi Sukuh
Gapura Teras Ketiga

Teras ketiga merupakan kompleks candi induk dan merupakan kawasan paling suci. Untuk memasuki teras ketiga, pengunjung harus melewati sebuah gapura yang juga sudah tidak utuh. Di teras ketiga inilah terletak candi induk yang tampak paling besar dibanding bangunan lainnya.

Candi induk berbentuk trapesium dengan luas dasar 15m² dan tinggi sekitar 6m. Dimana pada bagian depan terdapat tangga yang lumayan sempit dan curam menuju puncak candi induk.

Candi Sukuh
Candi Induk

Di teras ketiga ini banyak terdapat patung-patung dan relief-relief di sebelah kanan dan kiri. Di kompleks ini juga terdapat arca binatang berupa kura-kura, garuda, gajah, arca tokoh raksasa dan Dwarapala.

Selain arca yang berbentuk binatang, di area ini juga terdapat banyak arca yang berbentuk manusia dalam keadaan telanjang terlihat jelas. Juga terdapat relief lingga dan yoni, reliaf rahim, serta relief tubuh bidadari. Karena relief-relief tersebut tak heran jika Candi Sukuh disebut sebagai candi yang paling erotis.

Candi Sukuh
Berbagai Relief Hewan
Candi Sukuh
Relief Rahim

Relief-relief tersebut juga sebagai lambang kesucian antara hubungan wanita dan pria yang merupakan cikal bakal kehidupan manusia. Oleh karena itu Candi Sukuh sering disebut sebagai simbol "kesuburan" umat manusia. 

Mengunjungi Candi Sukuh

Sebenarnya kami sudah beberapa kali mengunjungi Candi Sukuh. Dan yang terakhir adalah saat liburan akhir tahun kemarin. Kami mengunjungi Candi Sukuh karena lokasinya yang tepat di samping Tenggir Park tempat kami menginap. 

Candi Sukuh buka setiap hari dari pukul 07.00 - 15.00 WIB. Loket tiket berada pada bagian barat, seberang kompleks Candi Sukuh. Harga tiket masuk perorang adalah 15rb, dan pembayaran hanya bisa dilakukan menggunakan QRIS. 

Candi Sukuh
Menggunakan Kain Poleng

Setelah membeli tiket, kami diarahkan ke meja sebelah untuk mengisi buku tamu dan dipinjami kain hitam putih khas umat Hindu Bali. Kain hitam putih atau yg disebut kain poleng tersebut nantinya kita lilitkan di pinggang kita. Kain tersebut sebagai penghormatan bahwa kita memasuki area yang disucikan oleh umat Hindu.

Pengunjung diwajibkan menggunakan celana atau rok panjang untuk menjaga kesopanan. Sedangkan wanita yang sedang berhalangan/haid tetap diperbolehkan masuk ke kompleks Candi Sukuh namun dilarang naik ke candi induk. 

Setelah melilitkan kain di pinggang, kami kemudian masuk ke area kompleks Candi Sukuh. Hari itu kami menjadi pengunjung pertama karena hari memang masih pagi. 

Kesan pertama memasuki area candi, terlihat kompleks yang sangat terawat dan rapi. Beberapa bagian candi yang memang sudah tidak utuh, tapi juga ada beberapa arca atau patung yang masih terlihat sempurna.

Kami mengambil foto dibeberapa bagian candi. Dan tak berapa lama tampak seorang bapak menghampiri kami. Beliau menyarankan spot-spot terbaik untuk mengambil foto. Sepertinya beliau memang tukang foto yang sering membantu wisatawan untuk mengabadikan gambar,

Kami kemudian meminta tolong beliau untuk memfotokan kami di beberapa spot sesuai arahan beliau. Sebagai ucapan terima kasih kami memberikan beliau uang, karena beliau juga tidak menyebutkan tarifnya. 

Candi Sukuh
Pemandangan dari Puncak Candi Induk

Kami mengeksplor setiap sisi teras Candi Sukuh. Saya juga sempat naik hingga ke puncak candi utama. Tangga menuju puncak memang sempit dan menanjak, jadi perlu kehati-hatian. Apalagi saat itu juga musim hujan sehingga beberapa bagian candi menjadi licin. 

Di puncak candi utama terlihat sisa sesajen yang berarti candi tersebut masih digunakan sebagai tempat ibadah. Dari puncak candi, kita juga bisa melihat kota Karanganyar dan Solo yang tampak luas dengan berbagai bangunannya. Saya membayangkan pasti di malam hari akan terlihat indah kerlap kerlip lampu.

Setelah puas berkeliling, kami menuju pintu keluar yang ada di sisi selatan candi. Didekat pintu keluar terdapat kotak tempat kita menaruh kembali kain poleng yang kita gunakan tadi.

Jadi buat teman-teman yang berkunjung ke daerah Karangnyar, kompleks Candi Sukuh bisa jadi salah satu alternatif wisata. Selain mempelajari sejarah, disini kita juga bisa menikmati pemandangan dan udara yang sejuk. Jika butuh penginapan ataupun sekedar makan siang kita bisa melipir ke Swargaloka ataupun tenggir park yang lengkap.

Terimakasih sudah membaca dan sampai bertemu di cerita selanjutnya 💗💗

2 komentar
  • Dewi Rieka
    Dewi Rieka
    Bangunan candinya sudah rapuh dan hancur ya disusun begitu saja kayak ringkih.. Alhamdulillah masih terawat dengan baik untuk dikunjungi masyarakat untuk mendapatkan ilmu dan wawasan sejarah Nusantara
    Balas
  • Antung apriana
    Antung apriana
    Wah aku baru dengan soal candi sukuh ini dan kayaknya masih banyak banget candi yang nggak kuketahui di pulau jawa. Kalau di Kalsel ada juga sih candi agung tapi aku baru sekali ke sana waktu kecil dulu
    Balas