Lasem adalah kota yang wajib teman-teman singgahi jika sedang berada di kota Rembang, Jawa Tengah. Berjarak 12 km dari kota Rembang, Lasem menyimpan banyak cerita sejarah tentang akulturasi budaya dan juga keragaman beragama. Lasem dikenal sebagai Tiongkok Kecil karena diyakini menjadi tempat pertama pendaratan kaum Tiongkok di Tanah Jawa. Kita akan banyak menemukan perkampungan Tionghoa yang tersebar di kota Lasem.
Selain dikenal sebagai Tingkok Kecil, Lasem juga dikenal sebagai kota santri karena terdapat banyak pondok pesantren. Sebagai wilayah pesisir, Lasem juga menjadi tempat penyebaran agama Islam oleh Wali Songo. Tidak jarang kita akan menemukan pondok pesantren yang berdiri bersebelahan dengan klenteng maupun gereja.
Karena banyaknya cerita tentang Lasem, maka tidak mengherankan jika Lasem mempunyai banyak bangunan sejarah yang dijadikan cagar budaya. Berikut beberapa tempat wisata yang kami kunjungi selama di Lasem adalah :
Rumah Merah Lasem dan Museum Batik Tiga Negeri
Rumah Merah Lasem adalah destinasi utama yang kami kunjungi saat berada di Lasem. Rumah Merah dan Museum Batik Tiga Negeri merupakan sebuah kesatuan bangunan. Kedua biasa dikenal dengan nama Rumah Merah karena warna rumah yang dominan dan identik dengan warna merah khas Tionghoa.
Cerita tentang Rumah Merah sudah saya ulas secara lengkap di artikel Rumah Merah Heritage Lasem. Rumah Merah Lasem merupakan sebuah penginapan yang dibuka untuk umum. Bangunan Rumah Merah masih mempertahankan bentuk aslinya dengan berbagai perlatan dan ornamen khas Tionghoa.
Sedangkan Batik Tiga Negeri merupakan batik khas Lasem yang mempunyai warna yang lebih berani dengan motif perpaduan khas Tiongkok dan Jawa. Disebut Batik Tiga Negeri karena batik ini pada masa dahulu untuk proses pewarnaan harus dilakukan di tiga tempat yang berbeda, yaitu warna merah di Lasem, biru di Pekalongan dan coklat di Solo.
Rumah Oei
Saat itu kami singgah ke Rumah Oei sesaat setelah makan siang di Dapur Lasem karena lokasinya yang memang bersebelahan. Rumah Oei adalah rumah yang didirikan oleh Oei Am, seorang perantau dari Fujian Tiongkok. Rumah ini didirikan pada tahun 1818 yang kemudian diwariskan dari generasi ke generasi.
Paska tahun 1965, rumah ini sempat kehilangan identitasnya dan tampak terbengkalai. Hingga akhirnya pada tahun 2016-2018, Rumah Oei direnovasi dan dijadikan sebagai Rumah Heritage Peranakan, Pusat Edukasi Seni Budaya dan Kuliner Lasem.
Rumah Oei kini dibagi menjadi tiga bagian. Area teras digunakan sebagai cafe yang menjual berbagai makanan dan camilan termasuk didalamnya adalah kopi lelet. Kopi lelet merupakan salah satu peninggalan kuliner khas Lasem. Terbuat dari kopi robusta yang digiling dengan sangat halus. Kopi ini dinikmati dengan cara menyeduhnya dan mengoleskan ampasnya pada batang rokok, sehingga rokok memberikan aroma perpaduan antara kopi dan tembakau.
Bangunan inti rumah Oei digunakan sebagai museum dan masih menyimpan berbagai barang peninggalan dari keluarga Oei. Area belakang rumah yang masih luas digunakan sebagai wisma penginapan yang dikenal dengan nama Wisma Pamile. Dengan tetap mempertahankan suasana tempo dulu, maka banyak furnitur khas Lasem yang masih digunakan di penginapan ini.
Klenteng Po An Bio
Klenteng Po An Bio terletak di Jl Karangturi Gang 7 no 15 Karangturi. Saat mengunjungi klenteng ini kami hanya melihatnya dari depan saja dan tidak masuk kedalam area klenteng. Menurut referensi yang saya baca, klentheng ini dibangun pada tahun 1740. Di dalam klentheng ini terdapat altar penyembahan bagi Dewi Laut yang melindungi para pelaut agar sampai di tempat tujuan.
Klenteng Thoe An Kiong (Cu An Kiong)
Klentheng Cu An Kiong merupakan klentheng tertua di Lasem sekaligus tertua di Pulau Jawa. Klentheng in berlokasi di Jl Dasun no 19 Lasem. Sama seperti mengunjungi Klenteng Poo An Bio, disini kami hanya singgah dan mengambil foto dari bagian luar saja. Saat itu terlihat beberapa anak yang sedang berlatih barongsai.
Salah satu yang menarik saat mengunjungi klenteng ini adalah Monumen Perjuangan Laskar Tionghoa dan Jawa melawan VOC 1740-1743. Monumen tersebut menceritakan tentang perlawanan laskar Tinghoa-Jawa melawan VOC karena tindakan VOC yang melakukan pembantaian besar-besaran terhadap sekitar 10rb etnis Tionghoa di Batavia. Monumen ini didirikan oleh Paguyupan Warga Lasem sebagai bentuk penghargaan kepada para pejuang bangsa yang memberikan dharma baktinya demi kemerdekaa Indonesia.
Lawang Ombo
Lawang Ombo terletak tidak jauh dari klenteng Cu An Kiong. Berdasarkan referensi yang saya baca, Lawang Ombo adalah sebuah bangunanan peninggalam kolonial Belanda yang masih dilestarikan hingga sekarang. Ciri khas bangunan ini adalah pagar kuning besar yang merupakan akses utama menuju bangunan di dalam nya.
Bangunan ini diperkirakan dibangun pada tahun 1860 dengan arsitektur khas Tionghoa. Bangunan ini dulu dimiliki oleh Lim Cui Sun yang diduga memiliki posisi penting pada masanya. Pada masa tersebut Lawang Ombo digunakan sebagai lokasi peyimpanan dan transaksi candu/opium. Bangunan ini mempunyai peran penting dalam jaringan distribusi opium karena letaknya yang strategis.
Hari itu kami tidak masuk kedalam bangunan Lawang Ombo karena pagar yang terlihat terkunci gembok dari luar dan tidak ada seorangpun disekitar lokasi tersebut. Sehingga kami harus cukup puas dengan melihat bangunanan luarnya saja.
Museum Nyah Lasem
Museum Nyah Lasem terletak di Jl Karangturi 5 no 2 Lasem. Sama sepeti Lawang Ombo, saat kami kesana terlihat museum yang tertutup rapat, kami tidak tahu apakah museum Nyah Lasem masih dibuka untuk umum atau tidak. Museum ini bertujuan untuk mengingat kembali kehidupan nyonya dan perempuan yang pernah tinggal di rumah kuno Lasem.
Museum Nyah Lasem merupakan bangunan bergaya rumah gladhak Jawa yang dibangun sekitar tahun 1800. Rumah tersebut kini menjadi museum yang menyimpan sejarah batik serta kehidupan masyarakat Tionghoa-Peranakan Lasem. Dikelola oleh Yayasan Lasem Heritage, museum ini menampilkan arsip dagang batik, peralatan membatik, serta benda budaya tempo dulu.
Masjid Jami Lasem dan Museum Islam Nusantara
Masjid Jami Lasem terletak sebelah barat alun-alun Lasem. Masjid Jami Lasem dibangun sejak tahun 1588 dan kini telah menjadi salah satu cagar budaya di Jawa Tengah. Di area masjid ini terdapat empat makam utama dan beberapa makam tokoh Islam lainnya.
Salah satu makam utama tersebut adalah makam Syekh Abdurrahman Basyaiban atau lebih dikenal dengan nama Mbah Sambu. Beliau adalah salah satu kiai besar yang aktif dalam tradisi kepesantrenan di masjid Lasem. Selain Mbah Sambu terdapat tiga makam tokoh Islam lainnya yang merupakan pendiri dari Nahdatul Ulama yakni KH Ma'shoem Ahmad, KH Baidlowi Abdul Aziz, KH Cholil Masyhuri.
Di dalam kompleks Masjid Jami Lasem juga terdapat Museum Islam Nusantara yang baru diresmikan pada tahun 2023. Museum Islam Nusantara Lasem mempunyai bangunan mirip dengan rumah gadang. Museum Islam Nusantara menyajikan beragam naskah biografi para tokoh ulama Nusantara, lengkap dengan fotonya. Selain itu, ada sejumlah benda kuno yang disimpan di museum tersebut mulai dari manuskrip hingga Al-Qur'an raksasa dari lempengan kayu.
Tips Berkunjung
Beberapa bangunan diatas seperti klenteng, Lawang Ombo dan Museum Nyah Lasem sepertinya akan lebih mudah diakses jika kita mengunjunginya dalam bentuk grup. Di Lasem terdapat banyak paket tur yang akan mengantarkan kita menjelajahi kota Lasem salah satunya adalah paket tur dari Rumah Merah.
Kami sendiri saat itu keliling Lasem secara mandiri, dan karena keterbatasan waktu juga kami tidak bisa mengekplore lebih jauh di beberapa destinasi wisata tersebut. Meskipun begitu saya sendiri sudah merasa puas karena sudah mempunyai bayangan tentang kondisi Lasem pada masanya.
Apakah teman-teman juga tertarik untuk mengunjungi Lasem?? 😊
Terima kasih sudah membaca dan sampai bertemu di cerita selanjutnya 💗💗





