adjQDGiw9zV3ZrtlDmdv0xUy2YCAW5gNJ7prCidQ

Mengulik Sejarah Kretek di Museum Kretek Kudus

Museum Kretek Kudus adalah satu-satunya museum kretek di Indonesia. Disini kita bisa melihat sejarah dan perkembangan rokok kretek
Museum Kretek Kudus

Kudus, sebuah kabupaten di Jawa Tengah ini menyimpan banyak cerita. Selain dikenal sebagai kota Santri dengan keberadaan Masjid Menara Kudus yang begitu gagah, ternyata Kudus juga dikenal sebagai Kota Kretek. Dua hal yang begitu kontras, namun itulah yang kita temukan di kota Kudus. 

Seperti yang kita tahu Kudus merupakan salah satu pusat industri rokok terbesar di Indonesia. Dan ternyata tokoh penemu kretek pertama di Indonesia adalah seorang pribumi asli Kudus yang bernama Haji Djamhari. Di Kudus dulu juga terdapat pengusaha rokok kretek yang sangat terkenal hingga diberikan julukan Raja Kretek yang bernama Nitisemito. 

Karena beberapa hal tersebutlah, maka atas prakarsa Sopardjo Roestam Guberbur Jawa Tengah, dibangunlah sebuah Museum Kretek. Museum Kretel diresmikan pada tanggal 3 Oktober 1986, sekitar 40 tahun yang lalu, dan masih tampak terawat hingga saat ini. 

Museum Kretek

Beberapa waktu yang lalu saat kami melakukan perjalnan dari Rembang ke Jepara, kami melintasi kota Kudus. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, kami memutuskan untuk mampir ke beberapa museum yang ada di Kudus, salah satunya adalah Museum Kretek ini. 

Museum Kretek berlokasi di Jl Getas Pejaten no 155 Kudus. Museum ini buka setiap hari dari pukul 08.00 - 15.00 WIB. Untuk biaya masuk ke museum ini cukup terjangkau yaitu 4rb saja saat weekday dan 5rb saat weekend. 

Museum Kretek Kudus

Museum Kretek dibangun untuk melestarikan sejarah dana asal-usul kretek di Indonesia yang mempunyai cikal bakal di kota Kudus. Dan tahukah teman-teman, bahwa Museum Kretek ini juga menjadi salah satu lokasi pengambilan gambar serial Gadis Kretek. Yaitu saat Lebas dan Arum menelusuri jejak hubungan antara ayah dan ibu mereka. Sudahkah teman-teman melihat serialnya ??😊

Keliling Museum Kretek

Museum Kretek menempati lahan seluas dua hektar, namun tidak semuanya merupakan bangunan museum. Selain museum kretek, di sisi lain juga terdapat replika rumah adat kudus serta lahan terbuka hijau yang bisa digunakan untuk berbagai kegiatan. Seperti saat kemarin kami kesana, ternyata sedang ada lomba burung.

Bangunan utama museum kretek bercirikan bangunan limasan dengan atap yang terdiri dari tiga tingkat dengan banyak menggunakan sentuhan kayu. Di dalam museum kretek hanya terdiri dari sebuah ruangan yang sangat luas yang dibagi menjadi beberapa bagian. Setiap bagiannya menampilkan perjalanan rokok kretek dari awal penemuan sampai perkembangannya saat ini. 

Asal Mula Kretek

Museum Kretek Kudus

Di Museum Kretek ini kita bisa mempelajarai tentang asal mula kretek. Seperti yang saya sebutkan diatas, bahwa penemu kretek ini adalah Haji Djamhari. Namun beliau menemukan resep kretek ini secara tidak sengaja. 

Kala itu beliau tengah mengidap sesak nafas. Kemudian beliau mengoleskan minyak cengkeh di dada dan tubuhnya. Setelah dioleskan, beberapa saat kemudian beliau merasakan bahwa sesak nafasnya mulai berkurang. Kemudian beliau mencoba mengunyah cengkeh dan ternyata hasilnya lebih baik daripada minyak oles.

Haji Djamhari kemudian bereksperimen dengan menghaluskan cengkeh yang dicampur dengan tembakau. Campuran cengkeh dan tembakau ini kemudian dilinting menggunakan klobot (kulit jagung kering) kemudian diikat dengan benang lalu dibakar dan dihisap. Dan ternyata hasilnya jauh lebih baik karena beliau merasakan sesak nafasnya menjadi sembuh. 

Cara ini kemudian dengan cepat menyebar di masyarakat sehingga beliau mendapatakan banyak pesanan. Saat cengkeh dan tembakau dibakar dan dihisap maka menimbulkan suara kretek-kretek sehingga dari hal tersebutlah akhirnya dikenal dengan nama kretek (rokok kretek)

Kejayaan Raja Kretek

Museum Kretek Kudus

Museum Kretek juga menceritakan kejayaan Nitisemito yang dikenal sebagai Raja Kretek di Kudus. Beliau memulai produksi rokok kreteknya pada tahun 1906. Merk awal rokok beliau adalah Soempil kemudian berubah menjadi Kodok Nguntal Ulo (Katak Makan Ular) dan terakhir diganti menjadi Rokok Bal Tiga.

Usaha rokok beliau mengalami masa kejayaan pada tahun 1914, dimana beliau membangun pabrik seluas 6 hektar dengan pegawai lebih dari 15.000 karyawan. Daereh pemasarannya juga cukup luas mencakup Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan hingga ke Belanda. 

Namun pada tahun 1938, usaha rokoknya mengalami surut karena konflik internal. Hal tersebut juga diperparah dengan PD II, dan banyak asetnya yang disita oleh pihak Jepang, Hingga akhirnya pada tahun 1953 Rokok Bal Tiga pailit dan produknya berangusr hilang dari pasarann.

Perkembangan Rokok Kretek

Museum Kretek Kudus
Museum Kretek Kudus

Meskipun Museum Kretek tidak terlalu besar namun benda-benda yang tersimpan disini cukup lengkap. Dari peralatan tradisional pembuatan rokok kretek, berbagai jenis cengkeh, tembakau dan saus tembakau. Disini juga terdapat meja linting lengkap dengan alat linting tangan yang masih digunakan hingga saat ini.

Museum Kretek juga menyimpan berbagai macam jenis rokok dari berbagai masa hingga sekarang. Terdapat juga beberapa contoh rokok klobot hingga rokok kretek yang banyak kita jumpai di pasaran saat ini. Jenis rokok/sigaret kretek yang banyak beredar di pasaran saat ini adalah Sigaret Kretek Tangan (SKT) dan Sigaret Kretek Mesin (SKM)

Penutup

Mengunjungi sebuah museum selalu terasa menyenangkan bagi saya pribadi. Apalagi jika museum tersebut tampak dirawat dengan baik sehingga pengunjung bisa menjelajah setiap bagian museum dengan nyaman. 

Dan dari Museum Kretek ini saya juga mendapatkan banyak pengetahuan terutama tentang asal usul rokok kretek Yang awal mulanya ditemukan untuk pengobatan sesak nafas hingga sekarang sudah banyak bertransformasi dan bisa dengan sangat mudah kita temukan

Terima kasih sudah membaca dan sampai bertemu di cerita selanjutnya 💗💗

Posting Komentar