Jika kawasan wisata kota tua di Indonesia sering disebut dengan istilah "Kota Tua" maka Semarang menyebutnya dengan nama "Kota Lama Semarang" atau sering juga disebut "Outstadt" atau "Little Netherland". Kawasan Kota Lama Semarang mempunyai luas kurang lebih 31 hektar. Kawasan ini merupakan kawasan perdagangan pada abad 19-20.
Tidak salah jika kawasan Kota Lama Semarang ini menjadi pusat perdagangan pada masanya, karena kawasan Kota Lama terletak tepat di depan Stasiun Tawang Semarang. Kita hanya perlu menyeberang jalan utama dan kita sudah bisa mengekplore kawasan Kota Lama. Di kawasan Kota Lama juga terdapat beberapa kantong parkir baik untuk motor maupun mobil bagi wisatawan yang menggunakan kendaraan pribadi.
Saya sudah beberapa kali mengunjungi Kota Lama Semarang, Namun seingat saya saat itu sedang ada revitalisasi besar-besaran di kawasan ini, sehingga tampak tidak teratur dan banyak area yang tertutup. Hingga akhirnya bulan September kemarin, saya mampir lagi ke kawasan Kota Lama Semarang. Dan tujuan utama saya kali ini adalah menuju Rumah Akar, karena selama ini saya belum pernah mengunjuginya.
Bangunan Kolonial Berdiri Megah
Setelah kami memarkir kendaraan, kami mulai menyusuri jalanan di Kota Lama. Sebelum ke Rumah Akar, saya melewati banyak bangunan kolonial yang masih berdiri megah. Seperti kawasan kota Lama lainnya yang ada di Indonesia, kawasan Kota Lama Semarang juga banyak dihiasi bangunan-bangunan megah peninggalan Belanda. Bangunan dengan arsitektur khas Eropa masih tampak berdiri megah. Beberapa bangunan ada yang digunakan sebagai bangunan pemerintahan, bank hingga penginapan dan kafe.
Salah satu bangunan yang menjadi ikonik kawasan Kota Lama Semarang adalah Gereja Blenduk atau GBIB Immanuel. Gereja ini dibangun pda tahun 1753 dan masih digunakan sebagai gereja hingga saat ini. HIngga saat ini Gereja Blenduk masih mempertahankan bentuk bangunannya dan tampak masih sangat terawat.
Nama Gereja Blenduk berasal dari bahasa jawa yaitu mblenduk yang berarti menonjol atau menggelembung. Kata blenduk ini merajuk pada atap bangunan utamanya yang berkubah besar sehingga tampak menggelembung.
Tepat di samping Gereja Blenduk adalah Taman Srigunting yang merupakan taman terbuka hijau di jantung Kota Lama. Ada banyak bangunan kolonial lainnya yang bisa kita ekplor, namun saat itu kami hanya berkeliling di sekitar area Gereja Blenduk.
Rumah Akar
Dari Gereja Blenduk kami berjalan lurus hingga bertemu dengan area Rumah Akar yang ikonik. Rumah Akar ini terletak di sebuah gang penghubung antara dua jalan, kita bisa menggunakan gmaps untuk lokasi tepatnya.
Rumah Akar merupakan salah satu spot yang banyak diminati wisatawan, termasuk saya sendiri ikut penasaran dengan rumah akar ini. Berdasarkan informasi yang saya baca, rumah akar ini sebelumnya adalah bangunan milik NV Dagblad de Locomotief, koran berbahasa Belanda tertua di Semarang.
Setelahnya bangunan tersebut sempat beberapa kali berganti kepemilikan. Bangunan rumah akar pernah dimiliki salah satu konglomerat Semarang bernama Thio Sing Liong yang hidup dan berjaya pada abad ke-19.
Untuk saat ini bangunan rumah akar hanyalah sebuah bangunan terbengkalai tanpa atap. Masih tampak beberapa jendela dan pintu yang terpasang sisi bangunan tersebut namun sudah tidak lengkap. Jika kita mengintip ke dalam, maka hanya terlihat berbagai macam tanaman yang tumbuh di sana.
Di bagian sisi tengah bangunan tersebutlah tumbuh sebuah pohon yang sangat besar. Akar pohon tersebut tampak melilit dinding bangunan yang ada disekitarnya. Akar pohon menempel kuat dan merambat pada bagian dinding bangunan. Untuk keamanan dipasang banyak tanda peringatan untuk tidak terlalu dekat atau bersandar pada bangunan tua disekitarnya karena dikhawatirkan akan roboh.
Saat kami tiba disana tampak sudah banyak rombongan wisatawan yang tengah mengabadikan foto. Tak ingin kalah, saya juga ikut mengantri untuk mendapatkan kesempatan mengambil gambar terbaik di Rumah Akar. Dan setelah puas mengambil beberapa foto, kami kemudian melanjutkan perjalanan berkeliling Kota Lama
Singgah di KovKoffie
Di tengah cuaca siang kota Semarang yang mulai terik, kami memutuskan untuk singgah di salah satu kafe yang ada di kawasan Kota Lama. Ada banyak kafe yang bisa kita pilih dan pilihan kami jatuh pada KovKoffie karena letaknya yang memang dekat dengan Rumah Akar.
KovKoffie mempunyai beberapa cabang dan yang di kawasan Kota Lama dikenal dengan nama KovKoffie Heritage. Coffeeshop ini buka 24 jam sehingga kita bisa mengunjunginya setiap waktu setiap hari.
Bangunan KovKoffie menggunakan bangunan kolonial dengan sedikit perbaikan. Meskipun dari luar tampak kecil, namun ternyata bagian dalamnya sangat luas. Area pertama adalah area smoking, masuk ke area selanjutnya adalah area non smoking yang juga tempat order dan kasir.
Untuk area non smoking terdiri dari dua lantai dengan berbagai pilihan tempat duduk. Dekorasi ruangannya juga sangat cantik dan menarik. Ada sentuhan kontemporer tempo dulu yang mendukung suasana sekitarnya.
Ada banyak kursi yang bisa kita pilih. Tempat ini sangat cocok untuk bekerja maupun berkumpul bersama. Ada banyak pilihan menu minuman, snack maupun makanan berat. Disini kami memesan Kov Latte Sweet, Lychee Tea dan Roti Sisir. Kami bersantai sejenak di KovKoffie sembari ngadem di tengah cuaca luar yang panas.
Saat hari sudah mulai siang, maka kami memutuskan untuk beranjak dari Kota Lama. Selain ketiga tempat yang kami kunjungi, ada banyak tempat lain yang bisa kita singgahi di Kota Lama, diantaranya adalah Museum Kota Lama dan 3D Art Trick Museum dan beberapa bangunan lainnya. Untuk 3D Art Trick Museum sepertinya saya pernah mengunjunginya di kesempatan sebelumnya.
Di kawasan Kota Lama kita akan lebih banyak berjalan menyusuri setiap sudutnya. Jadi akan lebih baik jika kita mengekplore kawasan Kota Lama kala pagi atau sore hari agar tidak terasa terik.
Itulah cerita kami saat berkunjung di Kota Lama Semarang. Terima kasih sudah membaca dan sampai bertemu di cerita selanjutnya 💗💗





