Jika Wonosobo mempunyai kuliner legendaris Mie Ongklok, maka Semarang juga mempunyai salah satu kuliner mie legendaris yaitu Mie Kopyok. Beberapa waktu yang lalu kami sempat mencicipi kuliner Mie Kopyok ini setelah malamnya kami mencoba kuliner malam Nasi Ayam Bu Sami.
Kata "kopyok" berasal dari bahasa jawa yang berarti diaduk. Penamaan mie kopyok merajuk pada cara penyajiannya yaitu mengaduk terlebih dahulu mie dan tauge dalam air panas sebelum disajikan. Saya sendiri belum pernah mencoba mie kopyok ini sebelumnya.
Mie Kopyok Pak Dhuwur
Meskipun di daerah lain kadang juga memiliki kuliner yang sama mie kopyok, namun komposisi dan bahan-bahan yang digunakan mungkin berbeda. Mie kopyok khas Semarang merupakan perpaduan dua budaya yaitu Tionghoa dan Jawa. Penggunaan mie adalah makanan khas Tionghoa sedangkan lontong adalah makanan khas Jawa. Dan yang menjadi salah satu ciri khas mie kopyok Semarang adalah penggunaan kerupuk gendar yang makin memperkaya rasa dan tekstur.
Ada banyak kuliner mie kopyok di Semarang, dan salah satu penjual mie kopyok yang legendaris adalah Mie Kopyok Pak Dhuwur. Mie Kopyok Pak Dhuwur merupakan salah satu pelopor mie kopyok di Semarang yang sudah berdiri sejak tahun 1970-an. Mie Kopyok Pak Dhuwur mempunyai lima cabang dan cabang utamanya berada di Jl Tanjung no 18 A Pandansari. Kami juga mencoba Mie Kopyok Pak Dhuwur yang berlokasi di Tanjung ini.
Hampir semua mie kopyok Pak Dhuwur buka dari pagi, yaitu dari jam 08.00 - 20.00 WIB. Kami tiba di mie kopyok sekitar jam 09.00 WIB jadi masih terlihat sepi. Mie Kopyok Pak Dhuwur Tuntang menempati sebuah sisi rumah yang mirip garasi, sehingga tampak tidak terlalu besar.
Di bagian dalam terdapat sekitar sembilan meja yang masing-masing bisa digunakan untuk empat orang pengunjung. Area kasir dan penyajian terletak di bagian sisi depan. Sedangkan di bagian teras dipasang tenda yang sepertinya bisa digunakan jika area dalam penuh.
Kesan Mencoba Mie Kopyok
Pagi itu sepertinya kami menjadi pembeli pertama di mie kopyok Pak Dhuwur. Di daftar menu tertera mie kopyok porsi biasa, setengah dan jumbo. Karena masih pagi dan ini pertama kali kami mencoba mie kopyok, maka kami memilih mie kopyok setengah sebagai menu sarapan kami.
Tak perlu menunggu lama, maka kedua pesanan kami segera diantarkan. Kesan pertama melihat mie kopyok adalah mirip tahu kupat ala Solo hanya saja beda di kuah. Jika tahu kupat Solo kuahnya coklat maka mie kopyok ini mempunyai kuah yang bening.
Seporsi mie kopyok terdiri dari mie kuning, lontong, touge rebus, irisan tahu, karak / kerupuk gendar dan seledri. Saat mencicipi kuahnya terasa unik, tidak mirip kuah soto maupun sop. Ada rasa gurih dan bawang putih yang mendominasi. Sebagai pelengkap di meja juga disediakan sambal, kecap serta tambahan kaldu/kuah bawang putih.
Bisa dibilang mie kopyok adalah menu vegetarian karena sama sekali tidak ada protein hewani didalamnya. Menurut saya yang memang bukan vegetarian, tampaknya akan lebih nikmat jika ada tambahan protein hewani di dalamnya seperti telur atau aneka sate ayam. Tapi mungkin kesederhanaan-nya inilah yang menjadi ciri khas dari mie kopyok.
Saya menikmati mie kopyok ini sampai habis tak bersisa. Di awal memang perlu penyesuaian karena rasanya yang menurut saya unik. Saya juga tambahkan kecap dan sedikit sambal sebagai pelengkap rasa.
Kuliner Sederhana yang Melegenda
Mie Kopyok adalah sebuah hidangan sederhana khas Semarang yang masih terjaga hingga saat ini. Mungkin kita akan sulit menemukan mie kopyok Semarang di kota lain, meskipun ada mungkin akan berbeda. Karena saya sendiri juga belum pernah menemukan kuliner ini sebelumnya.
Mie kopyok merupakan sebuah hidangan yang cocok dinikmati setiap saat. Komposisinya yang sederhana dan ringan membuat kita mudah untuk menikmatinya. Jadi apakah teman-teman juga tertarik untuk mencobanya???
Terima kasih sudah membaca dan sampai jumpa di petualangan selanjutnya 💗💗



