![]() |
| Stasiun Solo Kota |
Walking tour sepertinya saat ini sedang hits di beberapa kota besar di Indonesia. Berawal dari membaca keseruan beberapa blogger mengikuti kegiatan walking tour, salah satunya adalah blog mba Lala di lalakitc.com jadi menggugah rasa penasaran saya untuk mengikuti kegiatan walking tour juga. Saat itu saya sedang di Banjarmasin, mencoba cek-cek di IG tentang kegiatan walking tour di Banjarmasin ternyata saya tidak menemukan. Lanjut iseng scroll walking tour di Solo akhirnya saya menemukan satu akun walking tour yaitu @soerakartawalkingtour.
Dari situ kemudian saya DM tentang tatacara mengikuti kegiatan @soerakartawalkingtour. Dijelaskan bahwa acara reguler walking tour diadakan setiap hari Sabtu dan Minggu, bisa pagi, sore atau malam tergantung lokasi yang akan dikunjungi. Untuk lokasi yang dikunjungi, akan di share di feed IG setiap hari Rabu dan Kamis dengan peserta yang terbatas. Untuk biayanya sendiri dikumpulkan secara sukarela dari peserta, boleh memberikan donasi seikhlasnya. Saya kemudian merencanakan saat pulang ke Solo ingin mencoba mengikuti kegiatan tersebut.
Akhirnya hari Sabtu tgl 30 Juni 2024 kemarin saat mudik ke Solo, saya berkesempatan mengikuti kegiatan @soerakartawalkingtour. Walking tour kali ini dengan rute di wilayah Sangkrah. Kampung Sangkrah ini berlokasi di bagian timur kota Solo/Surakarta. Teman-teman adakah yang bingung perbedaan penyebutan antara kota Solo dan Surakarta?? Nanti di akhir tulisan akan saya jelaskan kenapa ada yang menyebut Solo ada yang menyebut kota Surakarta 😀
Lanjut lagi cerita tentang kegiatan walking tour. Kegiatan walking tour ini dimulai pada pukul 08.00 WIB dengan titik kumpul di Stasiun Solo Kota yang berlokasi di Sangkrah. Jam 8 kurang saya sudah sampai di Stasiun Solo Kota dan tampak beberapa peserta sudah datang berkumpul. Karena saya datang sendiri saya kemudian berbaur dan berkenalan dengan peserta lainnya. Ada yang baru pertama kali ikut, ada juga peserta setia yang sudah sering mengikuti acara @soerakartawalkingtour ini.
![]() |
| Guide sedang memberikan briefing |
Tepat pada pukul 08.00 WIB, kami kemudian didata oleh panitia dan diberikan briefing tentang beberapa lokasi yang akan kami singgahi. Dari pihak @soerakartawalkingtour ada tiga orang, dua orang sebagai guide dan seorang sebagai dokumentasi. Sedangkan untuk jumlah peserta walking tour ini sekitar 15an orang. Walking tour kali ini akan menceritakan sejarah tentang rel kereta dan sungai serta pintu air di wilayah Sangkrah
Sejarah Rel Kereta di Solo
Stasiun Solo Kota sebagai titik kumpul acara walking tour ini, merupakan salah satu stasiun tertua di kota Solo. Pihak guide menjelaskan bahwa jalur Rel kereta pertama sudah mulai direncanakan pembangunannya sejak pertengahan tahun 1850an. Pada awalnya ada dua opsi pembangunan rel yaitu Jalur Batavia-Bogor dan Jalur Semarang-Solo/Jogja. Akhirnya dipilih Jalur Semarang-Solo/Jogja yang merupakan tanah para raja sehingga diharapkan akan memberikan keuntungan maksimal. Juga untuk memudahkan distribusi gula dari Solo/Jogja menuju ke Semarang.
Rel kereta pertama kali dibangun pada tahun 1864 di desa Kemijen yang sekarang dikenal sebagai Stasiun Tawang. Kemudian pada tahun 1873 pembangunan rel kereta sampai Solo, dan pada tahun 1875 sampai di Jogjakarta. Pada saat itu di Solo ada tiga stasiun utama yaitu stasiun Purwosari, Balapan dan Solo Kota. Sekitar tahun 1920an kemudian dibangunlah rel kereta jalur Solo-Wonogiri. Pada jaman dahulu, kereta yang digunakan berupa kereta trem yang ditarik dengan kuda. Dengan perkembangan jaman akhirnya berubah menjadi kereta uap seperti yang masih ada saat ini yang digunakan sebagai kereta wisata Batara Kresna dengan jalur Solo-Wonogiri.
Sejarah De Hoop
![]() |
| Bangunan Pabrik Lemonade De Hoop |
Dari Stasiun Solo Kota, kemudian kami berjalan ke seberang stasiun dan berhenti di sebuah gudang tua yang bertuliskan DE HOOP. Guide tour menjelaskan bahwa De Hoop ini adalah sebuah pabrik air lemonade. Air lemonade sangat digemari oleh orang Belanda pada masa itu. De Hoop pada saat itu juga mendapatkan predikat sebagai perusahaan penghasil air lemonade paling bagus diantara 6 perusahaan air lemonade lainnya di Indonesia.
Pembangunan pabrik De Hoop dilakukan di depan stasiun bertujuan untuk memudahkan distribusi produk air lemonade ke kota-kota lainnya. Namun saat sekarang tempat tersebut telah menjadi milik perorangan dan telah beralih fungsi menjadi gudang toko elektronik.
Kali Jenes
Dari De Hoop kita dibawa berjalan ke arah timur menuju gang-gang kecil diantara pemukiman penduduk dan sampailah di bendungan Kali Jenes dimana terdapat jalur rel kereta diatasnya. Kali adalah bahasa Jawa yang dalam bahasa Indonesia berarti sungai.
![]() |
| Rel Kereta arah Solo-Wonogiri |
Jalur kereta yang melintasi Kali Jenes tersebut mengarah ke Kabupaten Wonogiri. Pada saat itu dibuka jalur kereta Solo-Wonogiri karena kota Wonogiri adalah pusat hasil perkebunan. Sehingga untuk memudahkan distribusi sampai ke Solo kemudian dibangun rel kereta.
Rel kereta Solo-Wonogiri banyak melewati tanah dari keraton Kasunanan dan Mangkunegaran sehingga mengalami penolakan dari pihak keraton pada saat perencanaan pembangunannya. Namun akhirnya setelah dilobi berkali-kali oleh pihak Belanda, akhirnya pihak Keraton setuju untuk dilakukan pembangunan rel kereta. Namun pihak Keraton juga mengajukan beberapa syarat. Salah Satu syarat yang diajukan adalah jika ada parade Keraton sedang lewat maka kereta harus berhenti hingga parade Keraton tersebut selesai.
![]() |
| Kali Jenes |
Wilayah Sangkrah adalah daerah pertemuan dua sungai besar yaitu Kali Pepe dan Kali Jenes. Pada awalnya Kali Jenes tidak mlelewati kawasan Sangkrah namun langsung berbelok ke daerah Lojiwetan yang merupakan kawasan elite yang banyak dihuni bangsa Eropa. Kemudian oleh pihak Belanda dibangunlah sebuah kanal/bendungan dari wilayah Pasar Kliwon sampai Demangan. Pembangunan tersebut dimaksudkan agar air tidak menumpuk di wilayah Lojiwetan karena daerah tersebut berdekatan dengan Sungai Bengawan Solo dan Kali Pepe. Pembangunan kanal tersebut mulai direncanakan pada tahun 1938.
Pintu Air Demangan
![]() |
| Pintu Air Demangan Lama |
Dari Kali Jenes kemudian kami menyusuri pemukiman penduduk menuju Pintu Air Demangan. Pintu Air Demangan adalah pintu penanggulangan banjir kota Solo yang dilewati Kali Pepe. Kali Pepe ini melewati tiga wilayah utama di Solo yaitu Pasar Gede, Balaikota dan Tirtonadi.
Pintu Air Demangan dibangun mulai tahun 1908 oleh Paku Buwono X. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, karena pintu Air Demangan ini dibangun oleh PB X sehingga mempunyai pintu air yang berjumlah 10. Saat ini Pintu Air Demangan lama sudah tidak mampu lagi menampung debit air maka dibangun Pintu Air Demangan yang baru pada tahun 2010.
![]() |
| Pintu Air Demangan Baru |
Disekitar Pintu Air Demangan kini telah dibangun taman-taman indah yang bisa digunakan sebagai area publik. Namun karena lokasinya yang berada di daerah pinggir kota sehingga taman di sekitar Pintu Air Demangan belum dimanfaatkan secara maksimal.
Sekilas tentang Perahu Rajamala
Dari Pintu Air Demangan lama kami menuju Pintu Air Demangan baru dan melewati Jembatan Merah yang membelah Kali Pepe. Disini guide @soerakartaealkingtour menceritakan tentang Sungai Bengawan Solo yang dulu digunakan sebagai salah satu jalur transportasi.
![]() |
| Jembatan Merah diatas Kali Pepe |
Sungai Bangawan Solo merupakan transportasi utama yang menghubungkan kota Solo-Wonogiri ke daerah pesisir hingga sampai ke Gresik sebelum adanya jalur darat. Sepanjang aliran Sungai Bengawan Solo tersebut dulu terdapat 44 bandar/pelabuhan. Di Solo terdapat 2 bandar yaitu Bandar Mbeton (Kampung Sewu) dan Bandar Nusupan (Semanggi/Jembatan Mojo). Kedua bandar tersebut berfungi sebagai lokasi bongkar muat untuk memindahkan barang-barang dari kapal besar di Sungai Bengawan Solo ke kapal kecil yang akan melewati Sungai Pepe dan Sungai Jenes menuju jantung kota Solo.
Pada cerita Babad Madura menjelaskan tentang perjalanan Paku Buwono VII dari Solo sampai ke Gresik hingga Madura dengan menaiki perahu Rajamala yang merupakan perahu Kerajaan.. Perahu Rajamala ini digunakan sejak PB IV sampai PBX.
Awalnya perahu Rajamala ini mempunyai satu canthik/kepala. Namun kemudian mengalami perubahan hingga akhirnya mempunyai 2 canthik yaitu di depan dan belakang pada masa PB VII. Pembuatan dua canthik tersebut dimaksudkan agar perahu bisa berjalan maju-mundur / depan-belakang. Hal tersebut dilakukan karena lebar sungai Bengawan Solo yang semakin mengecil sehingga perahu Rajamala yang ukurannya besar tidak bisa berputar.
![]() |
| Gambaran Perahu Rajamala |
Perahu Rajamala awalnya berukuran panjang 30m dan lebar 16m. Kemudian mengalami beberapa renovasi hingga akhirnya mempunyai ukuran yang lebih kecil menjadi panjang 15m dan lebar 8m pada masa PBX. Akhirnya perahu Rajamala tidak bisa digunakan kembali karena kayunya yang sudah rapuh dan juga perkembangan transportasi darat. Dan tempat berlabuh terakhir perahu Rajamala ada di Pesanggrahan Langenharjo yang berlokasi di Grogol Sukoharjo Jawa Tengah.
Saat ini kedua canthik perahu Rajamala masih utuh dan disimpan di dua tempat yang berbeda. Satu canthik berada di museum Radya Pustaka dan satu canthik ada di Keraton Kasunanan. Berdasarkan kepercayaan mistis jaman dulu, kedua canthik harus dipisahkan untuk mengatasi wabah yang saat itu sedang terjad yaitu wabah pes. Hingga saat ini kedua canthik tersebut tidak pernah disatukan untuk mencegah terjadinya bencana.
Asal Nama Sangkrah dan Solo
Setelah mendengarkan cerita tentang perahu Rajamala, kami kemudaian berjalan memutar menuju pinggiran Kali Pepe. Dari sini kita bisa melihat sisi lain kota Solo dan kehidupan warga di sisi kanan kiri Kali Pepe.
![]() |
| Peserta Walking Tour melintasi perkampungan penduduk |
Guide dari @soerakartawalkingtour menceritakan bahwa penamaan wilayah Sangkah bermula dari cerita pada masa Kerajaan Pajang sekitar tahun 1500an. Pada masa tersebut terdapat seorang pangeran yang bernama Raden Pabelan yang merupakan putra dari seorang Tumenggung. Pada saat itu Raden Pabelan melakukan tindakan tidak terpuji pada putri Sultan Hadiwijoyo yang bernama Sekar Kedaton. Sultan Hadiwijoyo adalah raja dari Kerajaan Pajang.
Karena tindakan tidak terpuji itulah, maka Raden Pabelan diburu oleh prajurit Kerajaan Pajang. Akhirnya Raden Pabelan tertangkap dan kemudian dibunuh dan mayatnya dibuang ke sungai. Mayat Rsen Pabelan kemudian hanyut hingga akhirnya mayat tersebut "nyangkrah"/tersangkut di suatu kawasan yang mana saat ini dikenal sebagai kawasan Sangkrah.
Mayat Raden Pabelan tersebut kemudian ditemukan oleh Ki Gede Solo yang merupakan pemimpin sebuah desa bernama Solo. Ki Gede Solo telah tiga kali berusaha untuk menghanyutkan kembali mayat tersebut namun selalu gagal dan kembali lagi ke posisi semula. Kemudian suatu hari Ki Gede Solo bermimpi didatangi oleh Raden Pabelan yang meminta Ki Gede Solo untuk menguburkan dengan layak mayat Raden Pabelan. Dan Raden Pabelan dalam mimpi tersebut juga menjanjikan bahwa pada suatu hari di desa Solo ini akan berdiri sebuah kerajaan yang sangat besar.
Singkat cerita, akhirnya beberapa ratus kemudian Pangeran Wijil dari kerajaan Mataram Islam datang berkunjung ke Solo. Dan oleh Pngeran Wijil kemudian dibangunlah sebuah kerajaan pemerintahan baru diatas wilayah Solo ini. Wilayah kerajaan tersebut bernama Keraton Surakarta Hadiningrat.
Dan hingga saat ini nama kota Solo telah berkembang dan populer sehingga banyak dikenal masyarakat luas. Penyebutan kota Solo lebih banyak digunakan dalam berbagai hal seperti dalam film, cerita buku dan lain-lain. Sedangkan penyebutan kota Surakarta lebih banyak digunakan sebagai nama administratif/resmi. Itulah kenapa kadang kita menyebut kota Solo namun kadang juga Surakarta.
![]() |
| Peserta Walking Tour melintasi jembatan Kali Jenes |
Selesai cerita tentang awal mula nama Solo, rombongan walking tour kemudian melanjutkan perjalanan menuju titik awal yaitu stasiun Solo Kota. Tidak terasa perjalanan yang sepertinya singkat ini ternyata berlangsung selama 2 jam. Di stasiun Solo Kota kami bertemu dan di stasiun Solo Kota pula kami berpisah.
Bagaimana pendapat saya tentang walking tour ini?? Saya sangat menikmatinya perjalanannya, karena kita jadi tahu daerah-daerah lain yang mungkin jarang saya datangi meskipun sama-sama di wilayah Solo. Selain itu, saya juga jadi mengetahui sejarah yang ada disekitarnya dengan lebih detail. Apakah saya ingin mengikuti kegiatan ini lagi?? Tentu saja, jika memang ada kesempatan saya ingin mengikutinya lagi.
Sekian dulu cerita pengalaman pertama saya mengikuti walking tour dan sampai bertemu di cerita selanjutnya💗💗










