adjQDGiw9zV3ZrtlDmdv0xUy2YCAW5gNJ7prCidQ

Mendaki Bukit Mongkrang Tanpa Rencana

Bukit Mongkrang adalah destinasi wisata pendakian di kawasan kaki Gunung Lawu yang cocok untuk para pemula, dengan ketinggian puncak di 2174 mdpl
Bukit Mongkrang

Pengalaman mendaki Bukit Mongkrang kali ini bukanlah pengalaman yang patut dibanggakan. Kami mendaki bukit Mongkrang memang tanpa rencana dan persiapan apapun. Hari itu setelah makan siang di Kopi Klotok Lawu, kami melanjutkan perjalanan berkeliling Tawangmangu. 

Saat itu kami melintasi area Cemoro Sewu dan Cemoro Kandang yang merupakan titik awal pendakian Gunung Lawu. Kami kemudian teringat adanya Bukit Mongkrang yang berlokasi tak jauh dari Cemoro Kandang. Kami pun bersepakat untuk mampir sejenak, melihat seperti apa suasana di sekitar Bukit Mongkrang.

Sekilas Tentang Bukit Mongkrang

Bukit Mongkrang adalah salah satu destinasi wisata pendakian bagi yang ingin melakukan pendakian singkat. Bukit Mongkrang berlokasi di Tlogodringo, desa Gondosulu, Tawangmangu, Karanganyar yang dikelola oleh Perhutani. 

Cocok Untuk Pemula

Bukit Mongkrang
jalur pendakian

Bukit Mongkrang mempunyai ketinggian 2.194 mdpl dengan luas sekitar 108 ha. Untuk mencapai puncak diperlukan waktu antara 1-2 jam. Bagi pendaki yang sudah terbiasa mungkin tidak sampai 1 jam, namun bagi pendaki pemula bisa sampai sekitar 2 jam untuk mencapai puncak.

Biasanya yang mendaki Bukit Mongkrang adalah tektok atau setelah sampai puncak langsung kembali turun tanpa menginap. Namun bagi yang ingin mendirikan tenda juga bisa karena banyak area terbuka luas disana.

Mempunyai Dua Puncak

Bukit Mongkrang mempunyai dua puncak yaitu Candi 1 dan Candi 2. Biasanya para pendaki sampai di puncak Candi 1 yang berada pada ketinggian 2065 mdpl. Lokasi di puncak Candi 1 berupa padang savana yang luas sehingga cocok untuk mendirikan tenda. Lokasi puncaknya banyak dikelilingi ilalang yang sangat indah dan sejuk.

Daya tarik utama dari puncak Mongkrang adalah padang savana yang luas dan hijau berpadu dengan birunya langit. Pemandangan ini memberikan sensasi visual yang memukau dan menjadi spot favorit para pendaki untuk berfoto. Suasana alam yang terbuka dan luas membuat tempat ini terasa begitu menyegarkan dan menenangkan.

Mencoba Mendaki Bukit Mongkrang

Hari itu kami tiba di Bukit Mongkrang saat sore hari, sekitar pukul 15.00 WIB. Terdapat sebuah tanah lapang cukup luas yang digunakan sebagai area parkir, baik sepeda motor maupun mobil. Dari lokasi parkir kita harus berjalan melewati jalan setapak sekitar 500 meter menuju pos pendaftaran atau basecamp. 

Bukit Mongkrang
perkebunan strawberry
Bukit Mongkrang
bukit mongkrang

Sepanjang jalan menuju basecamp kita disuguhi perkebunan strawberry pada sisi kiri dan pemandangan perbukitan di sisi kanan. Sampai di loket pendaftaran kita harus melakukan pelaporan pada petugas dan mengisi daftar pendaki, apakah ingin tektok ataupun bermalam.

Tiket masuk menuju Bukit Mongkrang adalah sebesar 15rb per orang. Setelah mengisi lengkap data pendaki, kita diwajibkan meninggalkan salah satu identitas bisa ktp ataupun sim kepada petugas. Dan saat kita turun nanti kita bisa laporan kepada petugas sekalian mengambil identitas diri yang kita tinggalkan tadi.

Cuaca sore itu cukup bersahabat, meski langit terlihat mendung namun tidak turun hujan. Kami berdua benar-benar tanpa rencana ketika sampai disana. Baju yang kami kenakan berdua sama sekali tidak mencerminkan kalo ingin mendaki. Sehingga saya berpikir ya udah kita jalan sekuatnya saja sekalian melihat bagaimana track-nya. Saya sendiri juga pesimis bisa sampai ke puncak😁.

Bukit Mongkrang
salah kostum memulai pendakian

Bermodalkan sebotol air mineral dan trekking pole yang ada di mobil, kami berdua melangkahkan kaki mendaki Bukit Mongkrang. Sejak awal suami sudah memperingatkan saya supaya jangan dipaksakan untuk naik. Harus disisakan tenaganya juga buat turun. Hal tersebut mengingat saya punya sejarah buruk saat mendaki Puthuk Setumbu. Waktu itu saya pingsan saat tiba di puncak Puthuk Setumbu 😅.

Kami berdua berjalan santai, suami berjalan di belakang saya. Mungkin beliau memastikan saya bisa berjalan menanjak dengan pasti. Kami juga sempat berhenti beberapa kali untuk mengatur nafas sekaligus mengambil foto tentunya. Semakin lama jalan semakin menanjak sehingga langkah kaki terasa berat. 

Setelah kurang lebih 20 menit mendaki, saya mengajak suami untuk menghentikan pendakian dan berjalan turun. Padahal saat itu kami juga belum sampai pos 1😅. Saya pikir daripada dipaksakan dan mengingat harus jalan turun dan juga hari yang sudah semakin sore, maka lebih bijak jika pendakian dicukupkan untuk saat itu 😀.

Bukit Mongkrang
titik akhir pendakian

Perlahan namun pasti saya melangkah menuruni jalan yang kami lewati tadi dan akhirnya sampai juga di basecamp. Dalam hati saya berpikir, jangan-jangan petugas loketnya tertawa melihat saya yang baru beberapa menit sudah kembali turun hahaha. Tapi untungnya hal tersebut tidak terjadi 😂.

Berencana Kembali 

Setidaknya rasa penasaran tentang Bukit Mongkrang sudah terobati. Sudah ada bayangan bagaimanakah jalan yang harus kami lewati jika nantinya saya benar-benar ingin mencapai puncak. Selama perjalanan mendaki kemarin, kami juga berpapasan dengan banyak pendaki dari berbagai usia dari anak-anak hingga dewasa. 

Saya berharap semoga suatu saat saya bisa kembali ke Bukit Mongkrang untuk mendakinya hingga puncak. Tentu dengan persiapan dan peralatan yang memadai pastinya. Tidak seperti kemarin yang hanya bermodalkan sebotol air mineral dan sandal jepit 😁.

Itulah cerita pengalaman pendakian kami yang ala kadarnya. Buat teman-teman yang hobi mendaki, baik pro maupun pemula, bisa menjadikan Bukit Mongkrang sebagai destinasi pendakian saat berada di Solo.

Terima kasih sudah membaca dan sampai bertemu di cerita selanjutnya 💗💗

NB ; Sejak akhir Januari 2026, pendakian di Bukit Mongkrang ditutup karena hilangnya seorang pendaki yang sampai sekarang (saat artikel ini say aedit, 9-2-2026) pendaki yang hilang tersebut belum ditemukan. Bukit Mongkrang ditutup sementara sampai batas waktu yang belum ditentukan.

32 komentar
  • rella
    rella
    Tertarik baca artikel Bukit Mongkrang ini karena ngikutin berita pendaki yang hilang itu, Yazid... Huhu, ternyata nggak ada gunung yang benar-benar cocok untuk pemula ya. Semua tetap harus prepare dan waspada. Yazid yang sudah bolak balik Mongkrang aja bisa tersesat apalagi pemula meski katanya tracknya sudah mudah, tapi tetap saja persiapan harus pol-polan.

    Bagi saya sekeluarga yang pemula juga, Mongkrang mungkin jadi salah satu alternatif tujuan kami karena belum berani untuk ke ketinggian yang lebih lagi terutama bawa sekeluarga. But, alam tetaplah alam dengan keindahannya, berapa pun ketinggiannya. Setuju nggak? hehe.
    Balas
  • ugaharinurul
    ugaharinurul
    Sudah lama gak main ke 'rumah' mba erika, jadi makin bagus sekali. Seperti biasa, cerita travelingnya selalu seru. Termasuk cerita ini, mba erika yang tracking, aku yang ngos2an hehehe.
    • erykaditya
      erykaditya
      ayokkkkk mbaaa rumahnya diisi lagi biar banyak temen yang datang hihihihi...mayan lahhh sekalian buat menyalurkan pikiran terpendam..halahhh :)
    Balas
  • Heni Hikmayani Fauzia
    Heni Hikmayani Fauzia
    Bukit Mongkrang kalau deket dari rumah saya di Sukabumi pasti saya jajah niih mbaa,,,sepertinya bisa tektokan yaa perjalanan mendakinya. Asal persiapan matang membawa segala perlengkapan akan jadi perjalanan menyenangkan.
    Balas
  • alienda
    alienda
    Musti banget coba nih ke Bukit Mongkrang. Tunggu bayi gede ah ke sana.. btw ga apa apa ya Mbaa, naik bentar, yang penting udah icip. Next full persiapan biar lebih asik dan no worry nanjaknya
    Balas
  • lendyagassi
    lendyagassi
    Pendaki pemula...
    Soalnya gak dilatih juga.. huhuhu.. sekalinya dapet track yang menantang, langsung ngosngosan parah.. Mau berenti, malu yaa.. sama anak-anak.
    Tapi kalau ga berenti, bisa bahaya.

    Suka banget sama Bukit Mongkrang yang ramah buat segala tipe pendaki.
    Balas
  • April Hamsa
    April Hamsa
    Wiiiihh bisa gitu ya tanpa rencana hehe. Soalnya kalau hiking2 gitu aku mikirnya medannya susah apalagi kalau mau sampai ke puncaknya. Kudu siap sepatu dan baju yang memudahkan naiik dan nggak bikin gerah kalau berkerjngat hehe.
    Penasaran kenapa dinamai candi. Kirain beneran ada candinya lho mbak 😁
    HTm buat mendaki mayan miring juga yaa.
    Asyik banget lihat hamparan perkebunan stroberi gitu.
    Sayang datang kesorean jadi nggak bisa sampai atas ya? Tandanya kudu kembali dan mulai dari pagi tu mbak 😁
    • erykaditya
      erykaditya
      hahaha bener mbaa emang disuruh datang pagi dan full prepared nanti klo kesini lagi yaa :)
    Balas
  • Antung apriana
    Antung apriana
    memang sebaiknya kalau untuk trekking ini harus direncanakan dan dipersiapkan ya soalnya walaupun kegiatannya cuma jalan cuma medannya pasti berat karena menanjak. aku jadi ingat waktu ke tahura sultan adam dan iseng naik tangga menuju air terjunnya itu beneran salah kostum dan tanpa persiapan untung bisa sampai atas. nah kalau sekarang kayaknya aku sudah nggak bisa lagi trekking begini karena lutut nyeri terus huhu
    • erykaditya
      erykaditya
      bener mbaa klo mo trekking emang butuh persiapan apalagi buat orang awam kayak kita ini yaaa..beda cerita kalo mereka memang sudah rajin mendaki gunung mungkin terasa lebih ringan ya mbaa...
      btw aku belum pernah ini ke tahura yang air terjun :(
    Balas
  • Ariefpokto
    Ariefpokto
    Saya belum pernah ke bukit ini tapi memang kalau mau mendaki mau itu jarak dekat jauh tetap harus sudah persiapan sih supaya kita tetap aman dan selamat dalam perjalanan. Terutama badan mesti fit dan juga bawa bekal yang cukup supaya perjalanan lancar
    Balas
  • rejekingalir.com
    rejekingalir.com
    Gak apa-apa Mbak Er untuk langsung turun mengikuti sinyal tubuh. Karena kalau dipaksakan entah apa yang akan terjadi.

    Daku pernah mendaki tapi bukit. Itu aja baru beberapa menit udah ngos²an gegara pakai alas kaki yang salah dan gak ada persiapan mendaki. Untungnya ditungguin sama Abang dan Kakak Ipar serta guide nya juga hihi
    Balas
  • Nuylentik
    Nuylentik
    Terpenting rasa penasaran itu tercapai hehe , duh lihat2 tmn2 pada naik gunung , adik aku juga ka dia udh banyak naik gunung di bdg , kalau pulang udh naek gunung bikjn ngiri hiks segala diceritain
    Balas
  • dinda
    dinda
    Meski nggak ada rencana, malah tralalala jadi satu tulisan mbak Ery. Hehehe...
    Saya sendiri kalau naik gunung nggak terlalu kuat, dulu pernah naik ke gunung Ijen baru setengah jam udah KO dan minta turun. Lalu naik lagi satu bulan kemudian di gunung yang sama, tapi lagi-lagi ya 40 atau 45 menit naik udah ngos-ngosan. Akhirnya baru bener-bener bisa sampai lihat orang nambang belerang tuh satu tahun kemudian.

    Tapi meski sampai pos 1, itu aja lho udah sueneng. Lihat-lihat kebun strowberi yang sueger dan bikin mulut pengen icip-icip.. hehehe.. :D
    Balas
  • Bambang Irwanto
    Bambang Irwanto
    saya awalnya baca bukit Nongkrong, Mbak. Ternyata bukit Mongkrang hahahaa. dan dari cerita Mbak Ery, bukit ini cocok untuk pemula atau juga bagi yang mendekati manula seperti saya. Jadi tetap dapat sensasinya, tapi tidak terlalu lelah dan bisa menikmati alam.
    Mungkin kalau Mbak Ery next naik lagi, harus mulai dari pagi. Dan pasti berhasil sampai puncak. Kalau kali ini kan, memang sudah kesorean. Dipaksakan juga takut kemalaman turunnya.
    • erykaditya
      erykaditya
      bener pakkk kalo emang niat nanjak nanti memang lebih baik pagi yaa jadi disana nanti klo mo istirahat bisa lama dan gak diburu2 waktu juga yaa..noted buat aku :)
    Balas
  • Nik Sukacita
    Nik Sukacita
    Mohon dimaafkan dulu ya Ery, malah aku yang ngakak loh itu kamu baru juga naik, langsung turun lagi. Tapi mengingat sejarahmu yang pernah pingsan di pendakian, itu adalah keputusan yang sangat bijak.

    Mungkin kesananya sama aku atau teman-teman blogger lain yak, dan benar katanya butuh persiapan yang matang. Thanks yaa sudah menulis, paling ga aku jadi tahu nih, kalau ke Tawamangu, ada pilihan traking seperti ini.
    • erykaditya
      erykaditya
      wkwkwkwkwk gpp mbaaa feel free buat ketawa kok karena emang sebuah keisengan yang tanpa persiapan haha...
      bener mbaa klo ke twangmangu bisa trekking ke mongkrang karena bisa tektok gak perlu menginap
    Balas
  • Katerina
    Katerina
    Dari tulisan mbak kali ini saya jadi tahu arti tektok. Dari kemarin-kemarin denger dan baca kata ini digunakan, masih belum paham. Kirain semacam "kontakan". Tektok=berkontak. Ternyata bukan ya haha.

    Keputusan mbak untuk menghentikan pendakian itu bagus, berarti mbak sudah paham sama diri dan kondisi mbak saat itu. Kita memang baiknya gak memaksakan diri, karena berhasil dan sukses mendaki bukan selalu soal sampai pada tujuan tempat, tapi juga pada tujuan untuk mengukur batas kemampuan.

    Semoga lain waktu bisa mencapai puncak Bukit Mongkrang ya mbak dalam kondisi lebih baik, mampu, sehat dan kuat. Aamiin.
    • erykaditya
      erykaditya
      hihihi alhamdulillah kalo akhirnya bisa menemukan pencerahan di tulisan ini mbaaa :)
      iyaa ini pengen banget bisa sampai puncak tapi ya gak ngoyo juga sie yaaa
    Balas
  • Lala
    Lala
    Aku sepakat, tidak memaksakan melanjutkan pendakian karena terlalu mendadak tanpa persiapan matang. Ke alam, terutama buat mendaki memang harus ada persiapan mumpuni. Supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

    Apalagi mba sempat mengalami pingsan di puncak sebelumnya ya. Pasti jadi pembelajaran berharga, nggak usah malu sama penjaga pos. Mereka justru berterima kasih sama pendaki yang mampu mengukur kemampuan diri.

    Semoga next mba bisa mencapai puncak Bukit Mongkrang dengan mendaki lebih matang persiapannya. Seger banget pastilah udara di area tersebut.
    • erykaditya
      erykaditya
      iyaa mbaa mana sekarang pendakian di mongkrang lagi ditutup karena ada pendaki yang hilang disana..sedihnyaa:(....kira2 sudah 3 hari ini sie kalo aku tidak salah baca berita yaaa
    Balas
  • Yuni Bint Saniro
    Yuni Bint Saniro
    Di perkebunan Strawberrynya, apakah kita bisa sekalian ikutan panen, Kak? Seru sih kalau bisa makan strawberry yang langsung dipetik di kebunnya.
    • erykaditya
      erykaditya
      Iyaa kak bisa panen langsung dikebun nya kalo tidak salah nanti kita tinggal bayar berapa gitu buat strawberry yang kita petik
    Balas
  • Asri M Lestari
    Asri M Lestari
    Tadi waktu baca sampai sana sekitar pukul 15.00, saya mikir apa turunnya nanti nggak kemalaman? Karena katanya butuh waktu sekitar 2 jam untuk sampai puncak, berarti pulang pergi 4 jam. Ternyata memang cuma "ngicip" ya mbak. Setidaknya sudah tahu medannya kaya apa. Jadi kalau balik lagi, persiapan bisa lebih matang. Semoga lain kali bisa sampai puncak.
    • erykaditya
      erykaditya
      iyaaa mbaa bener..makanya karena udah sore juga jadi kita emang gak expect sampai puncak ya udah liat aja kayak apa situasinya..bener kata mb asri kita cuma ngicip dikit aja disana wkwkw
    Balas
  • Yonal Regen
    Yonal Regen
    Memang acara dadakan itu banyak plot twist nya kadang-kadang, tapi jadi memorable pastinya, ya, daripada rencana terus tapi ga jadi terealisasi, hanya sebatas wacana.

    Mendadak mendaki bukit sih memang nuekaad.. hehe, untung sudah sedia trekking pole, jadi ga polosan banget ya mendaki nya. Next insyaAllah sampai puncaknya, ya, Mbak
    • erykaditya
      erykaditya
      Hehehe iyaaa mas semoga next kita bener2 bisa nanjak dengan proper yaa...kalo kemarin sie emang iseng2 aja liat kayak apa hihihi
    Balas
  • Fajarwalker.com
    Fajarwalker.com
    Suasananya mirip di Kampung Halaman saya mbak, ada satu lokasi untuk mendaki seperti ini. Namanya Lembah Cilengkrang, daaan itu spot favorit saya sih sampe sekarang. Dulu saya juga suka jalan seadanya mbak, cuma dulu mah kuat-kuat aja. gatau deh kalo sekarang wkwkwk.
    Mbak Eryka ada rencana ke jakarta kah? yuk nanti tgl 24 kita mau nge-trekking juga nih, di sentul.
    • erykaditya
      erykaditya
      wahhh sayang banget sepertinya saya belum berjodoh untuk trekking bareng ke sentul nie..karena memang blm ada rencana ke jkt sama sekali juga..tapi semoga acara nya lancar dan sukses ya maaass !!!
    Balas
  • Tukang jalan jajan
    Tukang jalan jajan
    Memang kadang petualangan paling berkesan itu datang dari ketidaksengajaan setelah makan siang. Saya salut dengan keberanian Mbak Eryka buat "iseng" nanjak meski pakai sandal jepit dan modal air mineral saja.
    Keputusan untuk turun lebih awal itu justru langkah yang bijak banget, lho. Menikmati suasana memang tidak harus sampai puncak, yang penting selamat dan rasa penasaran sudah terobati. Semoga rencana pendakian berikutnya dengan persiapan matang bisa terlaksana sampai ke Candi 1 ya!
    Balas
  • Rahmah 'Suka Nulis' Chemist
    Rahmah 'Suka Nulis' Chemist
    Kalau aku sih ini sudah keputusan tepat, Mbak
    Apalagi memang tidak ada persiapan sama sekali, khawatirnya ada cedera karena pakaian juga tidak sesuai
    Diketawain juga ga papa Mbak
    Mereka kan gak paham situasinya dan biarkan mereka dengan pikirannya karena tak bisa juga dikendalikan
    Semoga next ada cerita lanjutan dari pendakian ini
    Balas