Mendaki Bukit Mongkrang Tanpa Rencana

Bukit Mongkrang

Pengalaman mendaki Bukit Mongkrang kali ini bukanlah pengalaman yang patut dibanggakan. Kami mendaki bukit Mongkrang memang tanpa rencana dan persiapan apapun. Hari itu setelah makan siang di Kopi Klotok Lawu, kami melanjutkan perjalanan berkeliling Tawangmangu. 

Saat itu kami melintasi area Cemoro Sewu dan Cemoro Kandang yang merupakan titik awal pendakian Gunung Lawu. Kami kemudian teringat adanya Bukit Mongkrang yang berlokasi tak jauh dari Cemoro Kandang. Kami pun bersepakat untuk mampir sejenak, melihat seperti apa suasana di sekitar Bukit Mongkrang.

Sekilas Tentang Bukit Mongkrang

Bukit Mongkrang adalah salah satu destinasi wisata pendakian bagi yang ingin melakukan pendakian singkat. Bukit Mongkrang berlokasi di Tlogodringo, desa Gondosulu, Tawangmangu, Karanganyar yang dikelola oleh Perhutani. 

Cocok Untuk Pemula

Bukit Mongkrang
jalur pendakian

Bukit Mongkrang mempunyai ketinggian 2.194 mdpl dengan luas sekitar 108 ha. Untuk mencapai puncak diperlukan waktu antara 1-2 jam. Bagi pendaki yang sudah terbiasa mungkin tidak sampai 1 jam, namun bagi pendaki pemula bisa sampai sekitar 2 jam untuk mencapai puncak.

Biasanya yang mendaki Bukit Mongkrang adalah tektok atau setelah sampai puncak langsung kembali turun tanpa menginap. Namun bagi yang ingin mendirikan tenda juga bisa karena banyak area terbuka luas disana.

Mempunyai Dua Puncak

Bukit Mongkrang mempunyai dua puncak yaitu Candi 1 dan Candi 2. Biasanya para pendaki sampai di puncak Candi 1 yang berada pada ketinggian 2065 mdpl. Lokasi di puncak Candi 1 berupa padang savana yang luas sehingga cocok untuk mendirikan tenda. Lokasi puncaknya banyak dikelilingi ilalang yang sangat indah dan sejuk.

Daya tarik utama dari puncak Mongkrang adalah padang savana yang luas dan hijau berpadu dengan birunya langit. Pemandangan ini memberikan sensasi visual yang memukau dan menjadi spot favorit para pendaki untuk berfoto. Suasana alam yang terbuka dan luas membuat tempat ini terasa begitu menyegarkan dan menenangkan.

Mencoba Mendaki Bukit Mongkrang

Hari itu kami tiba di Bukit Mongkrang saat sore hari, sekitar pukul 15.00 WIB. Terdapat sebuah tanah lapang cukup luas yang digunakan sebagai area parkir, baik sepeda motor maupun mobil. Dari lokasi parkir kita harus berjalan melewati jalan setapak sekitar 500 meter menuju pos pendaftaran atau basecamp. 
Bukit Mongkrang
perkebunan strawberry
Bukit Mongkrang
bukit mongkrang

Sepanjang jalan menuju basecamp kita disuguhi perkebunan strawberry pada sisi kiri dan pemandangan perbukitan di sisi kanan. Sampai di loket pendaftaran kita harus melakukan pelaporan pada petugas dan mengisi daftar pendaki, apakah ingin tektok ataupun bermalam.

Tiket masuk menuju Bukit Mongkrang adalah sebesar 15rb per orang. Setelah mengisi lengkap data pendaki, kita diwajibkan meninggalkan salah satu identitas bisa ktp ataupun sim kepada petugas. Dan saat kita turun nanti kita bisa laporan kepada petugas sekalian mengambil identitas diri yang kita tinggalkan tadi.

Cuaca sore itu cukup bersahabat, meski langit terlihat mendung namun tidak turun hujan. Kami berdua benar-benar tanpa rencana ketika sampai disana. Baju yang kami kenakan berdua sama sekali tidak mencerminkan kalo ingin mendaki. Sehingga saya berpikir ya udah kita jalan sekuatnya saja sekalian melihat bagaimana track-nya. Saya sendiri juga pesimis bisa sampai ke puncak😁.

Bukit Mongkrang
salah kostum memulai pendakian

Bermodalkan sebotol air mineral dan trekking pole yang ada di mobil, kami berdua melangkahkan kaki mendaki Bukit Mongkrang. Sejak awal suami sudah memperingatkan saya supaya jangan dipaksakan untuk naik. Harus disisakan tenaganya juga buat turun. Hal tersebut mengingat saya punya sejarah buruk saat mendaki Puthuk Setumbu. Waktu itu saya pingsan saat tiba di puncak Puthuk Setumbu 😅.

Kami berdua berjalan santai, suami berjalan di belakang saya. Mungkin beliau memastikan saya bisa berjalan menanjak dengan pasti. Kami juga sempat berhenti beberapa kali untuk mengatur nafas sekaligus mengambil foto tentunya. Semakin lama jalan semakin menanjak sehingga langkah kaki terasa berat. 

Setelah kurang lebih 20 menit mendaki, saya mengajak suami untuk menghentikan pendakian dan berjalan turun. Padahal saat itu kami juga belum sampai pos 1😅. Saya pikir daripada dipaksakan dan mengingat harus jalan turun dan juga hari yang sudah semakin sore, maka lebih bijak jika pendakian dicukupkan untuk saat itu 😀.

Bukit Mongkrang
titik akhir pendakian

Perlahan namun pasti saya melangkah menuruni jalan yang kami lewati tadi dan akhirnya sampai juga di basecamp. Dalam hati saya berpikir, jangan-jangan petugas loketnya tertawa melihat saya yang baru beberapa menit sudah kembali turun hahaha. Tapi untungnya hal tersebut tidak terjadi 😂.

Berencana Kembali 

Setidaknya rasa penasaran tentang Bukit Mongkrang sudah terobati. Sudah ada bayangan bagaimanakah jalan yang harus kami lewati jika nantinya saya benar-benar ingin mencapai puncak. Selama perjalanan mendaki kemarin, kami juga berpapasan dengan banyak pendaki dari berbagai usia dari anak-anak hingga dewasa. 

Saya berharap semoga suatu saat saya bisa kembali ke Bukit Mongkrang untuk mendakinya hingga puncak. Tentu dengan persiapan dan peralatan yang memadai pastinya. Tidak seperti kemarin yang hanya bermodalkan sebotol air mineral dan sandal jepit 😁.

Itulah cerita pengalaman pendakian kami yang ala kadarnya. Buat teman-teman yang hobi mendaki, baik pro maupun pemula, bisa menjadikan Bukit Mongkrang sebagai destinasi pendakian saat berada di Solo.

Terima kasih sudah membaca dan sampai bertemu di cerita selanjutnya 💗💗

‹ Lebih lamaTerbaru ✓

Posting Komentar

Salam Kenal
erykaditya
Travelling, Kuliner & Lifestyle
Arsip Blog
Komunitas
Emak Blogger Blogger Perempuan
Banner Bloggercrony Female Blogger Banjarmasin
Partner of
Popular Posts