adjQDGiw9zV3ZrtlDmdv0xUy2YCAW5gNJ7prCidQ

Fenomena Alam Bledug Kuwu Grobogan

Bledug Kuwu Grobogan adalah salah satu fenomena alam berupa letupan kawah yang telah berlangsung ribuan tahun
Bledug Kuwu Grobogan

Kali ini saya ingin mulai berbagi cerita beberapa lokasi yang sempat kami singgahi selama perjalanan dari Solo menuju kota Rembang. Kenapa kami memilih kota Rembang?? alasannya sederhana saja karena kami belum pernah mengeksplore kawasan tersebut. Selama ini kami mungkin lebih sering ke daerah Semarang ataupun Jogja yang memang lebih dekat dengan Solo.

Berangkat dari Solo kami memilih jalur barat kemudian ke arah utara menuju kawasan Pantura. Saat itu kami melewati kabupaten Grobogan yang beribukota di Purwodadi. Di Grobogan sendiri terdapat beberapa obyek wisata diantaranya Api Abadi Mrapen, Bledug Kuwu dan Waduk Gedung Ombo. 

Sejarah Bledug Kuwu

Dan salah satu wisata yang searah dengan perjalanan kami adalah Bledug Kuwu. Bledug Kuwu adalah sebuah kawah gunung api lumpur yang berada di desa Kuwu. Bledug sendiri dalam bahasa Jawa berarti asap atau debu. Jadi bisa diartikan Bledug Kuwu adalah asap yang ada di desa Kuwu.

Bledug Kuwu Grobogan

Kawah di Bledug Kuwu ini secara berkala 2-3 menit melepaskan lumpur mineral dalam bentuk letupan. Dalam satu kawasan Bledug Kuwu terdapat beberapa kawah namun hanya ada dua yang besar sedangkan yang lain hanya letupan-letupan kecil.

Bledug Kuwu diperkirakan sudah ada sejak abad ke 17. Secara ilmiah, Bledug Kuwu adalah fenomena pelepasan gas, air, dan lumpur yang berasal dari endapan laut purba yang terperangkap jauh di dalam perut bumi. Proses ini sudah berlangsung secara alami selama ribuan tahun.

Meski sepintas mirip dengan lumpur lapindo, namun keduanya merupakan fenomena alam yang berbeda. Lumpur lapindo adalah sebuah bencana alam yang disebebkan oleh kesalahan mamusia dalam proses pengeboran. Sedangkan Bledug Kuwu adalah proses alami yang sudah berlangsung sekian ratus tahun dan tidak membahayakan manusia. 

Bledug Kuwu juga mempunyai sebuah cerita legeda turun menurun hingga saat ini. Bledug Kuwu dipercaya sebagai sebuah lubang yang menghubungkan tempat tersebut dengan Laut Pantai Selatan. Konon lubang tersebut adalah jalan pulang seorang pangeran yang bernama Jala Linglung dari Laut Pantai Selatan menuju kerajaannya di Medang Kamulan.

Pengalaman di Bledug Kuwu

Bledug Kuwu Grobogan

Kami sampai di Bledug Kuwu kala sore hari. Pengunjung dikenakan biaya masuk 5rb perorang. Di bagian depan adalah lokasi parkir kendaraan serta beberapa warung makan sederhana yang menyediakan minuman dan makanan. Saat itu suasana cukup sepi hanya terlihat beberapa pengunjung dan petugas.

Area Bledug Kuwu sendiri adalah sebuah area terbuka, kurang lebih 45 hektar. Terdapat balok yang disusun sedemikian rupa sehingga membentuk jalan setapak menuju ke pusat letupan kawah. Karena cuaca yang cukup panas dan tanpa ada tanaman satu pun yang tumbuh di sekitar kawah sehingga saya memilih menggunakan payung sebagai peneduh. 

Bledug Kuwu Grobogan
Bledug Kuwu Grobogan

Di sepanjang jalan tersebut, saya melihat beberapa petani tambak garam yang tengah menjemur air hasil dari penampungan letupan lumpur. Semakin mendekat ke arah kawah, terdapat beberapa tempat berteduh sederhana yang juga digunakan sebagai tempat menjual garam maupun lumpur dari letupan kawah.

Pada saat itu terdapat dua orang pedagang yang menjaga warungnya. Beliau mengatakan kepada kami bahwa tidak apa mendekat karena lumpurnya tidak panas. Meskipun begitu saya tetap memilih menjaga jarak aman saja. Dan jika ingin merasakan sensasi lumpur bekas semburan, kita bisa berjalan di sekitar jalan setapak tersebut. Akan terasa pijakan yang gembur karena berupa lumpur yang kering di bagian atas namun lembek dibagian bawahnya.

Beliau juga mengatakan bahwa kadang letupan lumpur meluas kadang juga mengecil. Beliau menambahkan bahwa selama cerita legenda Jaka Linglung masih bisa kita dengar, berarti Bledug Kuwu masih akan terus mengeluarkan lumpur. 

Kami tinggal disana selama beberapa saat sambil mengamati letupan-letupan kawah. Saya melihat ada beberapa lokasi letupan tapi hanya terlihat satu yang paling menonjol karena paling besar dan itu tepat berada di ujung jalan setapak tadi. Di sekitarnya juga terdapat letupa-letupan lain yang intensitannya lebih kecil.

Puas mengamati aktivitas di Bledug Kuwu, kami kemudian berjalan balik ke arah parkiran. Di area parkiran ini juga terdapat mushola dan toilet umum yang lumayan bersih di samping loket tiket masuk. Kami juga sempat singgah di sebuah warung di area parkiran untuk membeli es kelapa muda sebagai penyejuk di cuaca yang lumayan panas ini. 

Oleh-oleh Bledug Kuwu

Bledug Kuwu Grobogan
Bledug Kuwu Grobogan

Lumpur dari Bledug Kuwu dikenal mengandung mineral yang oleh penduduk sekitar digunakan untuk pembuatan garam secara tradisional. Air dari letupan lumpur secara berkala dialirkan dalam bak penampungan sementara. Air ini mengandung NaCl yang tinggi akibat air laut purba yang terperangkan dalam sedimen bumi.

Air tersebut kemudian dijemur dalam sebuah bak penampungan dan dijemur dibawah terik matahari selama berjam-jam. Setelah semua air menguap keseluruhan maka terbentuk sebuah endapan berupa kristal garam. Garam tersebut dikenal dengan nama garam krosok. Garam tersebut kemudian dikemas untuk selanjutnya dipasarkan.

Di Bledug Kuwu, garam krosok banyak dijual sebagai salah satu oleh-oleh. Selain itu juga terdapat lumpur yang dijual karena mengandung fosfor yang bermanfaat untuk kesehatan kulit. Saat itu saya memutuskan untuk membeli garam krosok sebagai buah tangan. Garam krosok ini dikemas menjadi dalam dua kemasan. Kemasan kecil seukuran gelas plastik seharga 5rb dan kemasan besar dijual 10rb.

Terima kasih sudah membaca dan sampai bertemu di cerita selanjutnya 💗💗


2 komentar
  • Dee_Arif
    Dee_Arif
    Wah menarik sekali Legenda dari Bledug Kuwu ini
    Ini lumpur dan garamnya apa bisa buat luluran untuk menghaluskan kulit ga mbak?
    Balas
  • Dee_Arif
    Dee_Arif
    Wah menarik sekali Legenda dari Bledug Kuwu ini
    Ini lumpur dan garamnya apa bisa buat luluran untuk menghaluskan kulit ga mbak?
    Balas