Weekend kemarin kami memutuskan untuk menghabiskan malam minggu ke arah Banjarbaru sambil mencari suasana berbeda. Kami jalan selepas maghrib tanpa tujuan pasti di Banjarbaru. Dari Banjarmasin ke Banjarbaru perjalanan kurang lebih satu jam menuju pusat kotanya. Di perjalanan, kami kemudian mampir ke warung jawa karena kebetulan malam itu saya sedang ingin makan rawon. Selepas makan malam kami melanjutkan perjalanan menuju kota Banjarbaru.
Di perjalanan pak suami mengajak untuk mencoba salah satu warung kopi di Banjarbaru yaitu Toko Kopi Melayu. Toko Kopi Melayu menawarkan konsep warung kopitiam dan terlihat dari bangunannya hanya berupa rumah kecil sederhana. Toko Kopi Melayu buka setiap hari dari pagi hingga malam yaitu sekitar pukul 07.00 WITA sampai 24.00 WITA.
Saat kami tiba disana, terlihat deretan motor dan mobil terparkir rapi sepanjang jalan di depan Toko Kopi Melayu. Ternyata meskipun tampak kecil dan sederhana namun Toko Kopi Melayu sudah mempunyai komunitasnya sendiri. Di Toko Kopi Melayu juga sering mengadakan event lari pagi sehingga tidak heran kalau tempat ini terlihat selalu ramai pelanggan.
Saya kemudian langsung menuju ke meja pemesanan untuk melakukan pemesanan dan pembayaran sekaligus. Saya memesan es milo melayu dan pisang goreng srikaya sedangkan pak suami memesan es teh tarik dan telur 1/2 matang.
Sebenarnya Toko Kopi Melayu mempunyai menu andalan nasi ayam kungpao dan mie kwah namun karena kami sudah makan jadi kami hanya order camilan saja. Selain itu juga tersedia bubur bakar spesial sebagai menu sarapan spesial dan kopi butter sebagai minuman andalan.
Saat melihat suasana Toko Kopi Melayu, saya kira hanya mempunyai tempat yang kecil sebagaimana terlihat dari depan. Namun ternyata di bagian belakang terdapat ruangan yang lebih luas. Area depan trotoar dan samping juga disediakan beberapa kursi bagi para pengunjung yang ingin suasana open space.
Kami memutuskan untuk duduk di area tengah yang berada di samping meja pemesanan/kasir. Tempat duduk di area ini mempunyai kesan vintage khas melayu yang terbuat dari papan berhadap-hadapan. Tidak banyak ornamen yang dipajang disana, hanya beberapa ornamen yang mencerminkan ciri khas Melayu peranakan.
Setelah duduk beberapa saat, maka satu persatu pesanan kami datang. Yang pertama adalah es teh tarik pesanan pak suami. Saat saya pertama melihatnya merasa sedikit aneh karena teh tariknya terlihat berbeda dari yang biasanya saya pernah pesan di tempat lain. Jika biasanya teh tarik berwarna coklat gelap dengan sedikit buih diatasnya, namun teh tarik disini warnanya terlihat lebih pucat sedikit putih seperti susu.
Saat saya mencobanya memang ternyata rasanya juga berbeda dengan teh tarik biasanya. Sepertinya mereka menggunakan teh melati karena terasa aroma melati saat meminumnya cmiiw. Mungkin memang jenis es teh tarik di Toko Kopi Melayu ini berbeda dengan es teh tarik biasanya yang pernah saya coba.
Yang kedua adalah es milo melayu pesanan saya. Es milo melayu disajian dalam cangkir blirik dengan taburan milo yang sangat melimpah diatasnya. Kita bisa meminumnya langsung atau mencampurkan terlebih dahulu milo diatasnya agar semakin nikmat. Manisnya juga pas menurut saya, dan saya cukup menyukainya. Mungkin mereka juga menggunakan milo produksi Malaysia yang memang rasanya berbeda dengan milo produksi Indonesia.
Kemudian pesanan selanjutnya yang datang adalah telur setengah matang pesanan suami. Disajikan dalam gelas yang juga dilengkapi garam dan merica dalam botol kecil. Saat saya melihat suami mengaduk telur, menurut saya sedikit overcooked dari ukuran setengah matang biasanya. Namun demikian, menurut suami tidak masalah karena masih enak untuk diminum.
Dan yang terakhir adalah pisang goreng tepung yang dilengkapi dengan selai srikaya. Sebagai salah satu penggemar pisang goreng, saya sangat menyukai pisang goreng srikaya ini. Tekstur tepung yang garing dan pisang yang manis terasa sempurna dengan cocolan selai srikaya. Kami berdua menikmati pisang goreng sambil mengamati suasana malam minggu yang cukup ramai di Toko Kopi Melayu.
Saat waktu beranjak semakin malam kami kemudian memutuskan untuk pulang kembali ke Banjarmasin.
Dengan menawarkan hidangan Melayu peranakan maka Toko Kopi Melayu mempunyai ciri khas tersendiri. Sepertinya di area Banjarmasin Banjarbaru belum banyak warung kopi yang menawarkan konsep kopitiam. Kebanyakan coffeeshop yang berdiri sekarang menawarkan konsep coffeeshop ala barat.
Dan apakah saya ingin kembali ke Toko Kopi Melayu?? Tentu saja karena saya belum mencoba menu andalan mereka. Lain kali saya ingin kesana saat perut sedang kosong sehingga saya bisa mencicipi menu utama di Toko Kopi Melayu seperti bubur, nasi ayam ataupun mie kwah.
Demikian cerita kami mencoba Toko Kopi Melayu Banjarbaru. Terima kasih sudah membaca dan sampai bertemu di cerita selanjutnya 💓💓



