Bukit Rhema atau yang lebih dikenal dengan sebutan Gereja Ayam tentu bukan nama yang asing lagi bagi kita yang tinggal di wilayah Jogja ataupun Jawa Tengah. Nama Gereja Ayam semakin melejit saat muncul dalam film garapan Mira Lesmana yaitu Ada Apa Dengan Cinta 2. Sebenarnya nama Gereja Ayam sendiri kurang pas, karena gereja ini berbentuk merpati putih. Jadi dalam tulisan ini saya akan mencoba membenarkan penyebutan namanya dengan nama Gereja Merpati Putih.
Seperti yang sudah pernah saya ceritakan sebelumnya saat kami mengunjungi Puthuk Setumbu, dari lokasi tersebut terlihat Gereja Merpati Putih dari kejauhan. Dan saat itu kami hanya mengunjungi Puthuk Setumbu dan Candi Borobudur tanpa ke Bukit Rhema karena hari yang telah sore.
![]() |
| Gereja Merpati Putih |
Dan akhirnya kami berkesempatan mengunjungi Bukit Rhema saat libur lebaran tahun ini. Setelah check out dari penginapan Rumah Boedi Borobudur Resort, dilanjutkan dengan mampir sejenak ke Rengginan Bu Yatin, kami melanjutkan perjalanan menuju Bukit Rhema.
Perjalanan ke Bukit Rhema cukup dekat karena memang berada dalam satu wilayah kawasan wisata Borobudur. Dengan berpatokan menggunakan gmap ataupun penanda arah di jalan maka kita akan sampai di Bukit Rhema.
Di kawasan Bukit Rhema ada 2 lokasi parkir yaitu dibawah dan diatas yang jaraknya hanya terpaut beberapa meter saja. Di lokasi parkir tersebut nanti akan ada petugas yang menawari jasa transportasi dan guide menuju Gereja Merpati Putih. Transportasi yang ditawarkan adalah mobil jeep dengan bak semi terbuka pada bagian belakang yang dilengkapi dengan kursi dan penutup pada bagian atasnya.
Harga transportasi jeep adalah @15k pp dari parkir ke Gereja Merpati Putih. Untuk jasa guide sendiri tidak dipatok harga alias seikhlasnya namun saat kami tanya rata-rata berapa, petugasnya menjawab berkisar 80rb. Guide tersebut nantinya akan membantu menjelaskan sejarah Gereja Merpati Putih serta membantu mengambilkan foto saat kita berada di puncak gereja.
Setelah menimbang akhirnya kami mengambil paket transportasi jeep saja tanpa jasa guide. Sebenarnya letak Gereja Merpati Putih juga tidak terlalu jauh dari lokasi parkir, kurang lebih hanya berkisar 800m. Namun jalan yang dilalui dari area parkir ke pintu masuk gereja sedikit menanjak sehingga butuh sedikit effort jika berjalan kaki.
Pembayaran tiket jeep dilakukan di loket karcis masuk saat akan mendekati Gereja Merpati Putih. Untuk tiket masuknya sendiri adalah @25k dan sudah mendapatkan free singkong goreng yang bisa ditukarkan di restoran yang ada di gereja.
Untuk penumpang jeep, area naik turunnya ada di depan toko souvenir Gereja Merpati Putih. Sopir jeep menjelaskan bahwa jika nanti kita ingin jalan balik, maka kita tinggal lapor kepada petugas yang berada di dalam toko souvenir tersebut untuk selanjutnya dihubungkan dengan sopir antar jemput.
Berjalan beberapa meter dari toko souvenir, kita akan sampai ke pintu masuk Gereja Merpati Putih. Kebetulan saat kita sampai, bertepatan ada pengumuman agar pengunjung segera berkumpul untuk selanjutnya memasuki ke dalam gereja dengan didampingi oleh seorang guide. Untunglah kami tadi jadi ambil guide yang ditawarkan petugas di tempat parkir, karena ternyata di Gereja Merati Putih sudah ada guide yang akan mendampingi pengunjung hingga menjelajah setiap sudut gereja secara gratis.
Setelah pengunjung berkumpul, saat itu ada sekitar kurang lebih 10 orang, maka kita dibawa masuk ke lantai 1 Gereja Merpati Putih. Disini guide menjelaskan bahwa Gereja Merpati Putih ini terdiri dari 7 lantai. Lantai 1 adalah lantai yang difungsikan sebagai tempat ibadah dan masih digunakan hingga saat ini. Kebetulan saat itu juga sedang ada ibadah umat Kristen di sebuah ruangan kedap suara.
Karena lantai 1 ini masih digunakan untuk ibadah maka kita dianjurkan untuk tidak mengambil gambar saat berada di lantai 1. Di lantai ini juga terdapat beberapa foto yang menjelaskan asal mula Gereja Merpati Putih.
SEJARAH
Asal muasal pembangunan Bukit Rhema adalah dari mimpi Bapak Daniel Alamsjah. Pada tahun 1988 beliau bermimpi untuk membangun sebuah rumah doa di perbukitan yang belum pernah beliau datangi. Kemudian sekitar tahun 1989 beliau dan keluarganya mengunjungi kawasan Borobudur dan bertemu dengan Jito, seorang anak dari desa setempat. Kemudian Jito membawanya ke sebuah perbukitan di dekat Candi Borobudur dan perbukitan tersebut ternyata sama dengan yang ada di mimpi beliau.
Akhirnya pada tahun 1992 dimulailah pembangunan Rumah Doa Bukit Rhema tersebut. Pengambilan nama Bukit Rhema beliau dapatkan dari hasil berdoa semalam suntuk. Rhema yang oleh umat Kristiani diartikan sebagai firman hidup.
Rumah Doa Bukit Rhema sebenarnya ditujukan sebagai rumah doa bagi seluruh umat agama. Namun karena pendirinya adalah seorang Kristiani sehingga sering disebut sebagai sebuah gereja.
Selain membangun Bukit Rhema, Daniel Alamsjah juga membangun sebuah panti rehab untuk membantu orang-orang yang mengalami gangguan jiwa, narkoba, kenakalan remaja dll. Panti tersebut dinamakan Panti Rehabilitasi Mental dan Jiwa Betesda yang juga terletak di Borobudur.
Pembangunan Bukit Rhema sempat terhenti pada tahun 1998 akibat dampak dari krisis moneter sehingga tampak terbengkalai. Pembangunan Bukit Rhema kemudian bisa dilanjutkan kembali sekitar tahun 2014 dengan banyak dibantu oleh anak-anak Panti Rehab Betesda.
Bukit Rhema pertama kali dibuka untuk wisatawan pada tahun 2014. Dan semakin terkenal karena digunakan sebagai lokasi syuting AADC2 pada tahun 2015. Sejak saat itu wisatawan yang berkunjung semakin banyak sehingga Bukit Rhema terus melakukan perbaikan hingga saat ini yang baru mencapai 75%.
Gereja Merpati Putih ini mempunyai bentuk merpati yang menggunakan mahkota di kepalanya. Dipilih bentuk burung merpati karena merpati adalah simbol kedamaian. Namun pada prakteknya para penduduk salah mengartikan bentuk mahkota di kepala merpati sebagai jengger ayam. Oleh karena itu penduduk menyebutnya dengan nama Gereja Ayam.
Bapak Daniel Alamsjah sendiri masih hidup hingga saat ini dan tinggal di Borobudur. Sedangan anak kecil yang bernama Jito juga masih setia membantu di Bukit Rhema sebagai fotografer di puncak gereja.
LAYOUT
Seperti disebutkan sebelumnya, Gereja Merpati Putih mempunyai 7 lantai. Nantinya ketujuh lantai tersebut akan membentuk sebuah alur cerita. Perjalanan tentang arti doa, mukjizat, kearifan lokal serta multikultural Indonesia dalam sebuah rangkaian cerita yang menarik di setiap lantainya.
Lantai 1 yang saat ini masih digunakan sebagai tempat ibadah, juga terdapat lorong doa dimana terdapat bilik doa berjumlah 12 bilik. Setiap biliknya yang bisa difungsikan sebagai ruang doa bagi seluruh umat beragama tidak hanya umat kristiani. Di ujung lantai 1 terdapat tembok harapan dimana para pengunjung bisa menuliskan harapannya dan menempelkannya di tembok tersebut.
![]() |
| Lantai 2 untuk Pameran & Doa Bersama |
Menuju ke lantai 2 adalah lantai yang difungsikan sebagai lokasi pameran dan juga restoran di bagian belakangnya. Disini bisa diadakan pameran lukisan/foto dan juga bisa diadakan pertemuan ataupun jamuan doa. Guide hanya mengantarkan kita sampai ke lantai 2 saja yang kemudian oleh petugas lantai 2 kita dipersilahkan naik menuju lantai 3.
Untuk naik ke lantai 3 sampai lantai 7, dibatasi hanya 10 orang saja per lantai. Lantai 3 sampai 7 terletak di bagian kepala merpati sehingga ruangannya lebih kecil dan terbatas dibandingkan lantai 1 dan 2 yang berada di bagian badan merpati.
Di lantai 3 kita bisa melihat graffiti berbagai jenis budaya di setiap sisi temboknya. Sedangkan di lantai 4 terdapat graffiti akibat penyalahgunaan narkoba, sejalan dengan visi Panti Rehab Betesda untuk mencegah generasi muda terjerat narkoba.
Naik ke lantai 5 yang disebut ruang transit, disini kita bisa melihat bagian ekor merpati. Dan segaris lurus dari ekornya, kita bisa melihat puncak Puthuk Setumbu.
![]() |
| Lantai 5 Tampak Puthuk Setumbu dari Kejauhan |
![]() |
| Lantai 6 Tampak Candi Borobudur |
Di lantai 6, kita akan diputarkan penggalan film AADC2 yang berlokasi di Gereja Merpati Putih. Selain itu juga diputarkan video suasana saat sunrise dari puncak Gereja Merpati Putih. Private sunrise biasanya dimulai dari jam 4 pagi dan harus reservasi terlebih dahulu karena jumlah pengunjung di puncak gereja dibatasi. Dari lantai 6 ini posisi kita sejajar dengan paruh burung merpati, dan dari sini kita bisa melihat Candi Borobudur yang berdiri megah.
![]() |
| Hasil Jepretan Pak Jito di Puncak Gereja Merpati Putih |
Dari lantai 6 kita melewati sebuah tangga kecil memutar menuju lantai 7. Di lantai 7 atau dipuncak gereja ini kami beruntung bisa bertemu dengan bapak Jito yang membantu pengunjung untuk mengabadikan foto terbaiknya. Pengunjung di lantai 7 hanya dibatasi 8 orang dan berada dipuncak selama 3 menit saja. Setelah 3 menit akan terdengar suara bel pertanda pengunjung harus turun dan bergantian dengan pengunjung selanjutnya.
Selesai menjelajah sampai puncak, kami kemudian turun dan memutuskan untuk istirahat sejenak di restoran. Di restoran, kami menukarkan voucher singkong goreng dan membeli minuman. Restorannya lumayan luas dan bersih. Juga terdapat toilet serta area mushola yang cukup luas di dekat restoran. Disini kita bisa melihat pemandangan hijau pepohonan sekitar kawasan Borobudur.
Gereja Merpati Putih sekarang tampak sangat terawat bersih dan rapi membuat pengunjung betah berlama-lama disana. Karena hari sudah semakin sore, kami memutuskan turun dan menuju ke toko souvenir untuk selanjutnya menunggu jeep yang akan membawa kami kembali ke lokasi parkir.
PASAR KAYU MUNTILAN
Dari Bukit Rhema, kami mealnjutkan perjalanan menuju Jogja ditemani rintik hujan. Dalam perjalanan tersebut secara tidak sengaja kami melewati Pasar Kayu Muntilan. Kami kemudian memutuskan untuk mampir, bukan untuk membeli kayu namun ingin melihat bekas lokasi syuting Gadis Kretek. Teman-teman tahu donk ya miniseri Gadis Kretek yang tayang di netflix?? Nah Pasar Kayu Muntilan ini menjadi salah satu lokasi syuting tempat bertemunya Jeng Yah dan Soeraja😀
![]() |
| Salah Satu Lokasi Syuting Gadis Kretek |
![]() |
| Pasar Kayu Muntilan |
Melihat layout Pasar Kayu Muntilan ini, maka memori kembali mengingat potongan miniseri Gadis Kretek. Dan ternyata pada salah satu sisi bangunan masih tertempel poster "Rokok Kretek Merah produksi kota M" yang merupakan salah satu merk rokok pada serial Gadis Kretek. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, kami kemudian mengambil beberapa foto sekitar Pasar Kayu Muntilan.
Pasar Kayu Muntilan ini sebenarnya tidak besar dan terlihat sepi, entah karena sedang hujan atau sedang libur lebaran. Beberapa toko tampak tertutup rapat. Bangunan di pasar kayu ini merupakan bangunan kios dari kayu yang berbentuk tempo dulu seperti di pedesaan. Selesai berfoto-foto kami kemudian melanjutkan kembali perjalanan menuju Jogja.
Terima kasih sudah membaca dan sampai bertemu di cerita jelajah selanjutnya 💗💗










